Setidaknya dua bulan terakhir ini adalah waktu terindah dalam hidupku, meskipun kini semuanya hanya tinggal kenangan. Bapak, sosok yang begitu tenang dan penuh kasih, menjadi serasa begitu dekat denganku. Seringkali saya membersamainya, menjadi sopirnya, untuk berbagai urusan yang dilakukannya, kadang itu berupa silaturahmi ke rekan sesama sekolah dahulu.  

 

Kebersamaan kami diisi dengan obrolan panjang, tentang pengalamannya masa lalu, tentang berbagai kehidupan dan lika likunya, seolah sedang mewariskan banyak hal seputar kedewasaan, kebijaksanaan ataupun sekedar pemahaman tentang bagaimana menyikapi tentang hari-hari tua ke depan.  

 

Namun, takdir berkata lain. Pagi itu, 13 Mei , Sepupu menelepon dengan suara terbata sekaligus tergesa," Cepat!, datang ke sini sekarang", tanpa menjelaskan hal yang lain, sementara ada sedikit keriuhan dan raungan tangis yang sempat terdengar terdengar di telingaku. Aku dan keluarga memang tinggal beberapa kilometer dari rumah orang tua.

 

Pagi itu, selepas Subuh, Tuhan memanggil Bapak pulang.  Terlihat, beliau terbujur dalam ketenangannya di pembaringan. Kehilangannya begitu tiba-tiba, meninggalkan kekosongan yang begitu dalam di hati kami. Sebagian anggota keluarga begitu syok, termasuk diriku yang masih membersamainya dan berbicara banyak sehari sebelumnya. Kejadian ini seolah menghancurkan semua harapan yang penuh kehadirannya.

 

Seorang saudara menghiburku, meski kehilangan seorang Bapak ibarat kehilangan "kemukten", kehilangan kekuatan, tetapi kita harus tegar menghadapi, begitu ia menyampaikan. Benar adanya, semandiri apapun kita, kehadirannya tetaplah sangat berarti. Meski berat, setiap nasihat, setiap senyum, akan selalu menjadi bagian dari diri kami.

 

Selamat jalan, Bapak. Terima kasih untuk setiap momen berharga yang kita lalui bersama, semoga aku bisa menjaga warisan kebaikan dan ketenanganmu. Meski kini kau berada di tempat yang jauh, cinta dan kasih sayangmu akan selalu mengiringi langkah kami. Hingga kita bertemu kembali, dalam keabadian yang penuh damai.

Selamat Jalan Bapak..


Setidaknya dua bulan terakhir ini adalah waktu terindah dalam hidupku, meskipun kini semuanya hanya tinggal kenangan. Bapak, sosok yang begitu tenang dan penuh kasih, menjadi serasa begitu dekat denganku. Seringkali saya membersamainya, menjadi sopirnya, untuk berbagai urusan yang dilakukannya, kadang itu berupa silaturahmi ke rekan sesama sekolah dahulu.  

 

Kebersamaan kami diisi dengan obrolan panjang, tentang pengalamannya masa lalu, tentang berbagai kehidupan dan lika likunya, seolah sedang mewariskan banyak hal seputar kedewasaan, kebijaksanaan ataupun sekedar pemahaman tentang bagaimana menyikapi tentang hari-hari tua ke depan.  

 

Namun, takdir berkata lain. Pagi itu, 13 Mei , Sepupu menelepon dengan suara terbata sekaligus tergesa," Cepat!, datang ke sini sekarang", tanpa menjelaskan hal yang lain, sementara ada sedikit keriuhan dan raungan tangis yang sempat terdengar terdengar di telingaku. Aku dan keluarga memang tinggal beberapa kilometer dari rumah orang tua.

 

Pagi itu, selepas Subuh, Tuhan memanggil Bapak pulang.  Terlihat, beliau terbujur dalam ketenangannya di pembaringan. Kehilangannya begitu tiba-tiba, meninggalkan kekosongan yang begitu dalam di hati kami. Sebagian anggota keluarga begitu syok, termasuk diriku yang masih membersamainya dan berbicara banyak sehari sebelumnya. Kejadian ini seolah menghancurkan semua harapan yang penuh kehadirannya.

 

Seorang saudara menghiburku, meski kehilangan seorang Bapak ibarat kehilangan "kemukten", kehilangan kekuatan, tetapi kita harus tegar menghadapi, begitu ia menyampaikan. Benar adanya, semandiri apapun kita, kehadirannya tetaplah sangat berarti. Meski berat, setiap nasihat, setiap senyum, akan selalu menjadi bagian dari diri kami.

 

Selamat jalan, Bapak. Terima kasih untuk setiap momen berharga yang kita lalui bersama, semoga aku bisa menjaga warisan kebaikan dan ketenanganmu. Meski kini kau berada di tempat yang jauh, cinta dan kasih sayangmu akan selalu mengiringi langkah kami. Hingga kita bertemu kembali, dalam keabadian yang penuh damai.

Related Posts