hardie |
Suatu waktu saya mendapat video dari seorang teman di grup wa, tentang bagaimana seorang mark zuckerberg, sang pendiri facebook, mendemokan sebuah alat untuk menjelajah dunia virtual. Dunia virtual yang biasanya hanya kita lihat saja, tapi dengan teknologi terkini kita tidak sekedar bisa melihat tapi menjelajah dan aktif seolah kita terlibat di dalamnya.
Mark menggunakan sebuah alat “virtual reality” layaknya kacamata besar yang menutupi sebagian area kepala atas dan juga sarung tangan tebal yang di dalamnya sudah tersambung komponen-komponen elektronik, dan keberadaan alat tersebut tentu saja sudah dilengkapi juga dengan software intelegent Artificial ( kecerdasan tiruan) yang canggih.
Diperlihatkan bagaimana mark memegang kubus, dimana kubus itu bisa jatuh dan bisa diambil lagi untuk ditata dalam sebuah tumpukan, Mark juga bisa berjabat tangan dengan orang lain dalam dunia virtual tersebut, bisa bermain catur dengan teman kita di dunia virtual tersebut. Tidak sekedar permainan catur online dimana masing-masing pemain hanya menghadap komputernya sendiri-sendiri, tetapi di dunia virtual baru ini, kita seolah bisa langsung bertemu wujud fisik dari lawan kita.
Sebenarnya hampir sama dalam dunia game, khususnya dulu sangat terkenal besutan dari produsen game wii, kita memakai alat layaknya kacamata dan juga senjata yang kita pegang, seperta pedang, senapan dan lainnya. Kita bisa inetraktif di dalamnya seolah bisa masuk dalam pertempuran di game tersebut dan ikut aktif dalam aktivitas game tersebut seperti berperang, menebas musuh, menembak dll.
Tetapi dalam era sekarang, sebagaimana yang dikenalkan oleh Mark di awal, kita tidak ahanya terlibat aktif di game semata, kita bisa juga berinteraksi dengan orang lain sebagaimana di dunia nyata. Teknologi itu yang kemudian orang menyebut sebagai metaverse, dunia yang tanpa batas.
Bukan hanya facebook, yang akhirnya meluncurkan pengembangan teknologi di Metaverse ini , tetapi perusahaan-perusahaan lain yang terkemuka juga masuk dalam pengembangan metaverse ini, sebut saja Google, Amazon, Adidas dan lain-lain. Dengan perkembangan teknologi yang sangat pesat sekarang khususnya di rekayasa perangkat lunak dan dukungan dari sumberdaya manusia yang mumpuni jelas perusahaan-perusahaan tersebut mungkin tidak begitu mengalami kesulitan dalam mauk ke bisnis dunia metaverse. Apalagi dengan dukungan dana yang sangat besar.
Mengingat Metaverse, saya juga teringat akan sebuah film yang sempat merajai box office satu dekade lalu, yaitu film yang berjudul Avatar. Dimana dalam film tersebut diceritakan seseorang bisa masuk ke dunia dan komunitas masyarakat lain, dan itu dilakukan dengan menghidupkan avatar orang tersebut, secara fisik kita berada di suatu tempat layaknya peti / tabung, dan ketika kita mengaktifkan dan menyambungkan diri dengan avatarnya, maka avatar tersebut akan hidup dan seolah jiwa, hati dan pemikiran kita ada di avatar tersebut. Baru ketika avatar kita istirahat/tidur, maka fisik kita akan bangun seperti sedeia kala.
Andaikan metaverse berkembang demikian cepat, dan kita masih diberi kesempatan untuk melihat, menyaksikan bahkan ikut terlibat di dalamnya. Entahlah, apakah teknologi itu yang akan memudahkan kita atau justru secara langsung menjauhkan kita dari esensi kehidupan manusia itu sendiri.
Kehidupan bertemu secara fisik mungkin sudah tidak ada ada lagi. Kita cukup memasang alat sambil tiduran di dikamar, kita cukup membuat janji dengan teman kita untuk sekedar kongkow di taman di dunia metaverse tersebut. Kitapun cukup berkumpul mendiskusikan pekerjaan kantor dengan rekan-rekan kita seolah itu seperti di dunia nyata. Kita bisa ke mal, membeli sesuatu, baju misalnya, untuk kita test pakai dulu di dunia virtual tersebut untuk kemudian, bisa kita beli aslinya nanti.
Apa yang lagi kasmaran juga bisa pacaran? Bercengkerama, berpegangan tangan dan berbisik mesra, dan selanjutnya kita mengakhiri petualangan kita di metaverse, kita lepas semua alat petualangan kita di metaverse dan kita menyadari sebenarnya kita hanya terbaring di tempat tidur, tidak kemana-mana.
