hardie |
Suatu waktu dalam sebuah pejalanan kereta pulang dari Jakarta, tidak jauh dari tempat duduk saya ada sepasang suami istri yang juga sedang menikmati perjalanannya, sesekali terdengar kalimat yang lepas dari istrinya yang disambut sahutan sang suami. Mereka bukanlah orang muda lagi, tetapi terlihat sudah menjadi sepasang kakek nenek, namun kelembutan dan keakraban yang ditunjukkan tidak menyiratkan bahwa usia mereka telah menua, sepertinya mereka sudah teruji dan biasa dengan asam garam dalam menapaki perjalanan panjang kehidupan, khususnya tentang badai dan ujian dalam sebuah keluarga, sehingga relasi harmonis tetap terjaga.
Ada sepotong roti yang tersaji dalam tatakan kecil yang menempel di dinding badan kereta depan kursi mereka, juga ada sebotol air mineral di sampingnya, menemani roti tersebut. menjadi sajian sederhana yang mereka bagi bersama.
Mereka berbagi sepotong roti, tetapi saya melihatnya bukan karena keterbatasan, melainkan sebagai simbol dari cinta dan kesetiaan yang mereka jaga selama bertahun-tahun, berbagi berdua terlihat seperti sudah menjadi kebiasaan mereka. Kisah hidup mereka terpatri dalam setiap potongan roti yang mereka bagi, karena tidak hanya roti yang mereka bagi, tetapi juga masa lalu yang mereka lewati bersama. Mungkin hanya mereka yang bisa memahami, tetapi setidaknya saya sudah bisa menerkanya.
Di antara senyum lembut dan tatapan penuh pengertian, terkadang mereka menggenggam tangan satu sama lain, seakan merasakan denyut kehidupan yang saling terhubung di antara jari-jari mereka yang keriput.
Sepotong roti yang mereka nikmati adalah bukti dari kesederhanaan yang mereka pilih, tetapi juga merupakan pernyataan dari komitmen dan pengorbanan satu sama lain. Keduanya mengalami berbagai liku hidup bersama, menjalani masa-masa suka dan duka, menopang satu sama lain dalam setiap detik kehidupan. Begitulah penilaian dan pikir saya.
Mereka mungkin tidak memiliki kekayaan yang melimpah, tetapi sepertinya mereka paham bahwa kekayaan sejati adalah memiliki satu sama lain. Saya trenyuh, bahagia dan sedikit iri melihat apa yang mereka tunjukkan. entah bagaimana jika mereka kehilangan satu sama lain. Dan tiba-tiba ingatan saya terbawa kepada sepasang orang tua dimana saya tinggal pertama kali di jakarta, saudara yang telah saya anggap orang tua kandung sendiri, kisah yang tidak beda, kisah cinta sampai tua yang mengharukan, sehingga berpulangnya mereka pun dalam waktu yang hampir sama.
Dalam setiap percakapan terlihat mereka saling menguatkan, ada senyum yang saling bertukar, dan tersurat jelas kebahagiaan dari air mukanya.Mereka seperti telah menjadi satu jiwa dalam dua tubuh yang saling melengkapi. Dalam sepotong roti yang mereka nikmati bersama, terukir kisah cinta yang tak pernah pudar, yang membangun sebuah perjalanan dari kasih sayang dan kepercayaan, yang seolah itu juga mengajari saya tentang bagaimana saya menjalani kehidupan nanti dengan teman sejiwa.
Meskipun usia mereka telah menua, cinta mereka tetap segar seperti pagi yang baru. Sepotong roti yang mereka bagi adalah simbol dari hubungan yang tak terputuskan, dari cinta yang bertahan, mereka adalah bukti hidup bahwa cinta sejati tak mengenal usia, melainkan hadir dalam setiap nafas dan momen yang mereka bagi bersama.
