Pagi ini saya membaca kekhawatira actor Nicholas Cage megenai kekhawatirannya terhadap perkembangan teknlogi AI yang mengancam keberadaan actor dalam berseni peran. Cepat atau lambat peran-peran actor maupun para actress akan tergantikan, serta film akan kehilangan esensi seni peran yang organik dan penuh perasaan.


Bintang utama film Face-Off ini menyoroti kehadiran employment-based digital replica. Ini adalah teknologi yang memungkinkan seorang aktor untuk menciptakan versi digital dirinya sendiri yang dapat "bekerja" atas nama mereka di berbagai produksi tanpa kehadiran fisik mereka. Aktor dapat menyetujui penggunaan replika digitalnya untuk berbagai film atau acara TV, memungkinkan mereka untuk "bermain" di beberapa proyek sekaligus, bahkan tanpa harus berada di lokasi syuting. 


Teknologi ini menawarkan fleksibilitas yang lebih besar bagi para aktor, karena mereka dapat terus bekerja, bahkan ketika terikat dengan proyek lain atau saat sudah pensiun. tentu saja, hal ini juga menimbulkan masalah etika, seperti siapa yang mengontrol penggunaan replika tersebut, bagaimana royalti atau hak cipta dibagi, dan bagaimana menjaga keaslian peran jika semakin banyak aktor menggunakan replika digital. 


Apalagi sebelumnya juga sudah ramai dengan teknologi deep learning dan machine learning, AI dapat dilatih untuk memahami ekspresi wajah, intonasi suara, dan gerakan tubuh, yang merupakan elemen penting dalam seni peran. Teknologi ini dikenal sebagai deepfake, di mana AI bisa "menghidupkan" wajah aktor secara digital, bahkan aktor yang sudah tiada. Misalnya, teknologi ini sudah digunakan untuk menghidupkan kembali aktor Paul Walker dalam film Fast & Furious 7 setelah kematiannya.


Pun dengan kemampuan CGI (Computer Generated Imagery) yang semakin realistis, peran aktor secara fisik bisa sepenuhnya digantikan oleh model 3D yang dikendalikan oleh AI. Sistem AI dapat menghasilkan karakter digital yang sepenuhnya realistis, termasuk emosi dan reaksi. Dalam film The Irishman, teknologi de-aging (peremajaan) digunakan untuk membuat aktor terlihat lebih muda, sementara AI mampu memprediksi dan merekayasa ekspresi mereka dengan tingkat detail yang mengesankan.


Selain penampilan visual, suara aktor juga bisa dipalsukan menggunakan AI. Dengan menggunakan data suara aktor, teknologi voice cloning memungkinkan AI meniru suara dengan akurasi yang luar biasa, termasuk nada, gaya bicara, dan aksen. Ini berarti suara dari seorang aktor bisa "digunakan" bahkan setelah mereka pensiun atau sudah tidak mampu tampil di depan kamera.


Begitulah perkembangan AI yang demikian cepat, tentu di satu sisi akan menjadi sebuah ancaman, baik bagi pameran film iu sendiri ataupun dari sisi ke-originalitas-nya, akan tetapi bagi sebagian yang lain tentu ini merupakan kesempatan dan kemudahan. Tetapi yang jelas, akan banyak perdebatan ke depannya, dan di sisi lain kita tidak bisa menafikkan teknologi yang makin pesat. Pada akhirnya kita harus sudah enyadari bahwa dunia Avatar sudah hadir, Kita “tetap beraktivitas” di saat kita tidur.


"Ancaman" Teknologi AI Bagi Pelaku FiIm



Pagi ini saya membaca kekhawatira actor Nicholas Cage megenai kekhawatirannya terhadap perkembangan teknlogi AI yang mengancam keberadaan actor dalam berseni peran. Cepat atau lambat peran-peran actor maupun para actress akan tergantikan, serta film akan kehilangan esensi seni peran yang organik dan penuh perasaan.


Bintang utama film Face-Off ini menyoroti kehadiran employment-based digital replica. Ini adalah teknologi yang memungkinkan seorang aktor untuk menciptakan versi digital dirinya sendiri yang dapat "bekerja" atas nama mereka di berbagai produksi tanpa kehadiran fisik mereka. Aktor dapat menyetujui penggunaan replika digitalnya untuk berbagai film atau acara TV, memungkinkan mereka untuk "bermain" di beberapa proyek sekaligus, bahkan tanpa harus berada di lokasi syuting. 


Teknologi ini menawarkan fleksibilitas yang lebih besar bagi para aktor, karena mereka dapat terus bekerja, bahkan ketika terikat dengan proyek lain atau saat sudah pensiun. tentu saja, hal ini juga menimbulkan masalah etika, seperti siapa yang mengontrol penggunaan replika tersebut, bagaimana royalti atau hak cipta dibagi, dan bagaimana menjaga keaslian peran jika semakin banyak aktor menggunakan replika digital. 


Apalagi sebelumnya juga sudah ramai dengan teknologi deep learning dan machine learning, AI dapat dilatih untuk memahami ekspresi wajah, intonasi suara, dan gerakan tubuh, yang merupakan elemen penting dalam seni peran. Teknologi ini dikenal sebagai deepfake, di mana AI bisa "menghidupkan" wajah aktor secara digital, bahkan aktor yang sudah tiada. Misalnya, teknologi ini sudah digunakan untuk menghidupkan kembali aktor Paul Walker dalam film Fast & Furious 7 setelah kematiannya.


Pun dengan kemampuan CGI (Computer Generated Imagery) yang semakin realistis, peran aktor secara fisik bisa sepenuhnya digantikan oleh model 3D yang dikendalikan oleh AI. Sistem AI dapat menghasilkan karakter digital yang sepenuhnya realistis, termasuk emosi dan reaksi. Dalam film The Irishman, teknologi de-aging (peremajaan) digunakan untuk membuat aktor terlihat lebih muda, sementara AI mampu memprediksi dan merekayasa ekspresi mereka dengan tingkat detail yang mengesankan.


Selain penampilan visual, suara aktor juga bisa dipalsukan menggunakan AI. Dengan menggunakan data suara aktor, teknologi voice cloning memungkinkan AI meniru suara dengan akurasi yang luar biasa, termasuk nada, gaya bicara, dan aksen. Ini berarti suara dari seorang aktor bisa "digunakan" bahkan setelah mereka pensiun atau sudah tidak mampu tampil di depan kamera.


Begitulah perkembangan AI yang demikian cepat, tentu di satu sisi akan menjadi sebuah ancaman, baik bagi pameran film iu sendiri ataupun dari sisi ke-originalitas-nya, akan tetapi bagi sebagian yang lain tentu ini merupakan kesempatan dan kemudahan. Tetapi yang jelas, akan banyak perdebatan ke depannya, dan di sisi lain kita tidak bisa menafikkan teknologi yang makin pesat. Pada akhirnya kita harus sudah enyadari bahwa dunia Avatar sudah hadir, Kita “tetap beraktivitas” di saat kita tidur.


Related Posts