hardie |
Pertemuan para alumni SMA semasa saya sekolah dulu sangat ramai, lapangan yang cukup luas depan sekolah penuh tenda-tenda di pinggirannya yang sebagian berisi sajian berbagai makanan dan camilan selain cendera mata dan pernak pernik sekolah, sementara di bagian tengah ke depan, meja-meja bundar dibuat per kelompok, dengan kursi kursi yang mengelilinginya, persis seperti posisi tempat duduk saat hajatan di kampung-kampung. suasana malam itu begitu meriah, di tengah cuaca malam yang cerah.
Malam itu adalah pertemuan akbar antar alumni lintas angkatan sekolah kami, karena lintas angkatan tentu alumni yang datang banyak, meski angkatan kami tidak sebanyak alumni angkatan lain, tapi setidaknya itu cukup sebagai hiburan dan menggobati rasa kangen antar teman, karena selepas lulus rata-rata dari masing masing kita menyebar kemana-mana, mengikuti jalan rezeki dan hidupnya masing-masing.
Momen ketemu teman sekolah kadang menjadi sesuatu yang menarik, seringkali menjadi sesuatu yang sangat di nanti, khususnya oleh mereka yang penat terhadap kehidupan pekerjaannya sehari-hari. Jika di dalam dunia kerja relasi terbentuk semata-mata karena adanya ikatan kerja, yang seringkali berhadapan dengan batasan-batasan. beda dengan pergaulan saat sekolah dulu, pergaulan yang belum ada rasa pamrih apapun, cenderung lebih tulus dan apa adanya. itulah kenapa, ketemu teman semasa sekolah lebih berkesan daripada teman semasa bekerja. meski tidak semua, tetapi berdasarkan apa yang saya alami atau lihat, ketika teman sekantor sudah tidak bekerja bersama, entah pensiun atau pindah, persahabatan terkadang hanya sekedar “<em>say hello</em>” saja, beda dengan teman saat sekolah, kenangannya biasanya sangat banyak.
Saya pun punya orang tua yang sudah sepuh, usia 70 tahunan, yang banyak diingat oleh beliau adalah teman sekolah, jika beliau mendengar ada teman sekolahnya masih ada dan terlacak alamat tinggalnya, terkadang saya lah menjadi sopir pribadinya mengantarkan mereka untuk silaturahmi. ada rasa senang saya melihat mereka bercerita, bersenda gurau, mengenang masa mudanya.
Begitu pula dengan kami, pertemuan yang ada malam ini, banyak membuat gelak tawa, sebagian teman rambutnya sudah memutih, keriput wajah mulai samar-samar nampak. bahkan sebagian kecil sudah mempunyai cucu, sementara satu dua teman justru anaknya masih kecil-kecil, sedikit terlambat berkeluarga. lucunya, pertemuan itu mengingatkan karakter dan sifat masing masing saat sekolah dulu, meski sebagian sudah menjadi <em>orang penting</em> di dunia kerjanya, menjadi pemimpin di instansinya, menjadi pejabat, menjadi kepala cabang atau manager yang sukses, menjadi dokter atau beberapa profesi yang lain, karakter dan sifat di dunia kerjanya seperti ditinggalkan, kembali seperti semula saat sekolah dulu. ada yang suka jahil, suka bergurau, sementara yang dulunya pendiam sudah sedikit ceriwis.
Biasanya kalau reuni sekolah rada unik, umumnya saat reuni pertama kali, mereka yang datang rata-rata masih terbawa “jabatan”nya, sehingga pertemuan yang ada kadang menjadi kaku, untuk yang merasa dia <em>tidak berhasil</em> dalam hidup, biasanya pertemuan-pertemuan berikut mereka sungkan untuk datang lagi, tapi seiring umur bertambah, kedewasaan juga bertambah, menyadari bahwa rezeki kehidupan sudah ada yang mengatur, pertemuan beberapa tahun berikutnya biasanya sudah <em>cair</em>, yang merasa hidupnya berhasil tidak sombong, yang merasa kurang berhasil juga tidak rendah diri. Setiap orang punya jalan hidup dan rezeki sendiri yang sudah ditentukanNya.
Banyak juga yang datang diantar anaknya, rasa antusiasme besar untuk ketemu teman-teman lamanya. Terlihat rasa riang tergambar jelas dari air muka teman-teman semua. Di samping itu panitia juga menyediakan hiburan yang cukup meriah, serta tidak ketinggalan pernak-pernik khas sekolah banyak tersedia, yang membuat beberapa alumni ingin memilikinya sebagai kenangan.
Pada akhirnya saya bertanya-tanya, pada akhirnya apa yang akan kita cari nanti setelah tua. saya banyak membaca dan mendengar bagaimana orang tua seringkali merasa kesepian. kadang bagi yang beruntung masih ada anak cucu yang menemani. tapi tidak sedikit yang terpaksa harus hidup sendiri, jika anak-anak telah menikah dan memutuskan untuk jauh karena faktor pekerjaan atau keadaan yang lain. Malah saya sering mendengar mereka yang sudah sepuh akhirnya mengalami kehidupan seperti sebatangkara.
Saya dulu kenal dengan seorang bapak yang bertugas di salah satu kementerian, sebelum pensiun, terlihat badannya sehat bahkan rambut masih terlihat hitam. entah kenapa, hanya sekitar satu tahun lebih beliau pensiun, badan terlihat kurus, rambut telah memutih semua dan mulai sakit-sakitan. Pernah sekali ada teman saat dulu bekerja yang mengunjungi, tetapi selebihnya kesepianlah yang menjadi temannya. ketika istrinya meninggal dunia lebih dahulu, ia merasa sangat terpuruk. Dan memang tidak berapa lama beliau akhirnya menyusul.
Kadang hal-hal seperti itu, bisa menjadi pembelajaran buat diri pribadi, betapa berharganya teman-teman di masa tua. kita bisa berkumpul dengan anak cucu, tapi tetap saja tidak bisa menggantikan persaudaraan dengan teman. anak cucu tentu sudah mempunyai kesibukan sendiri dan sudah <em>tidak satu gelombang frekuensi lagi </em>dalam banyak hal, mereka sudah dalam tahapan menjawab kehidupan yang sedang mereka jalani.