hardie |
Perjalanan dan tugas ke luar negeri sudah sering dilakukannya. Beberapa hari lalu dia juga baru pulang dari Eropa, beberapa negara seperti Belanda, german, luxemburg menjadi bagian dalam perjalanannya. ada foto yang sempat menjadi kenangan saat dia di eropa. foto berlatar menara eiffel yang menandakan persinggahan ke Paris juga dia lakukan. Kebetulan negara-negara di eropa bukanlah negara yang sangat luas, sehingga sekali dayung beberapa negara dilalui.
Jika untuk tugas ke luar negeri, maka negara negara di seputar ASEAN sudah menjadi rutinitasnya, Philipina, malaysia, brunei adalah yang biasa dan sering dikunjunginya. Jabatan yang diemban sebagai salah satu pimpinan teras atas pusat menjadikan kesempatan itu senantiasa di dapatkan. Tentu, ketika bertugas ke luar negeri maka misi dan pekerjaan yang di bawa adalah misi negara lagi, bukan sekedar mewakili daerah atau sekedar urusan kantor. Dulu saat menjadi staf biasa, tugasnya pun senantiasa bepergian , meskipun itu masih dalam level nasional, setidaknya seluruh provinsi dan daerah di Indonesia sudah pernah dikunjunginya.
Tetapi meski dia punya kesibukan yang lumayan padat, ditambah dengan posisi kedudukan dia di kantornya. ada satu yang menarik yang saya perhatikan darinya. Dia hampir tidak pernah absen, dan selalu aktif dalam kegiatan-kegiatan di lingkungannya. Bahkan sebelumnya dia masih sempat menjadi ketua RT sebelum akhirnya di delegasikan ke orang yang lebih muda. Rapat dan silaturahmi rutin bulanan RT hampir pasti dia hadiri, kalau sedang tidak ada tugas ke luar kota.
Warga di wilayah RT tersebut, terdiri berbagai latar belakang. Ada karyawan, PNS, pedagang dan tidak sedikit yang jadi abang ojek. Rumah di lingkungan tersebut juga sangat padat, kepadatan khas Jakarta. sehingga problematika sehari-hari juga selalu ada. Biasanya kalau ada permasalahan di lingkungannya Dia selalu menjadi bagian solusi. beberapa orang minta petunjuk seolah dia sudah di anggap sesepuh di lingkungannya, meski dianggap sesepuh, tetapi sebenarnya usianya masih kisaran 50an.
Suatu waktu, saat saya pernah berkunjung ke rumahnya. di ruang tamunya penuh dengan berkardus-kardus minuman kemasan, dan juga mie instan, selain juga bahan-bahan sembako. tumpukan kardus itu begitu tinggi hampir menyentuh langit-langit rumahnya. ternyata dia merelakan kediamannya khususnya ruang tamunya sebagai gudang bantuan sosial. kebetulan saat itu sebagian besar rumah-rumah di sekitarnya terkena banjir, posisi rumah yang bersisian dengan sungai ciliwung mau tidak mau rentan terkena air pasang. kebetulan waktu itu hujan hampir tiap hari, bukan hanya Jakarta, tetapi di Bogor, daerah hulu sungai tersebut bahkan hujan sangat besar yang menyebabkan debit air sungai ciliwung seperti tidak terkendali. akhir banyak sekali rumah yang terendam, umumnya sampai sebatas dada orang dewasa.
Dalam kesempatan lain, saya pernah melihat langsung juga, dia sedang menggunting kertas kecil-kecil yang ternyata adalah kupon makan, yang sedang disiapkan untuk kegiatan wisata di RTnya, tak hanya itu diapun masih sempat-sempatnya membantu mengisi snack dalam kardus yang akan di bawa sebagai bekal camilan di kendaraan. Ada sekitar 5 bus yang di sewa untuk keperluan wisata bagi warga RT. wisata yang dituju tidak jauh-jauh, hanya seputaran pantai di banten, ujung barat Jawa, diantarnya ke pantai carita dan pantai Matahari.
Kadang saya berpikir, orang yang sudah punya kedudukan dan jabatan yang tinggi masih sempat-sempatnya terlibat untuk hal-hal yang kecil. dan saya pun pernah sedikit menelisik tentang hal itu. dan dari jawaban yang saya dapatkan, memang ada hal-hal yang sepertinya kecil, tetapi membuat dia bahagia. Dia merasa sangat bahagia ketika melihat orang lain bahagia. wisata dekat yang bagi dia sebenarnya jauh dari menarik, tapi justru bisa membuat kegermbiraan lebih bagi orang-orang di lingkungannya, yang jarang berkesempatan untuk bersenang-senang, karena sebagian besar harinya hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.
Hal itu pula, tegasnya, yang membuat dia harus banyak bersyukur. Dia di kasih kesempatan untuk bisa berkeliling negeri dan menyempatkan kesempatan yang ada untuk menikmati segala yang dipunyai bangsa ini, baik itu budaya maupun kekayaan dan keindahan alamnya, tentu tidak setiap orang mempunyai peluang seperti ini. rasa syukur itulah yang kemudian dilakukan dengan cara membahagiakan orang-orang sekitar. Keriangan dan Kebahagiaan yang dirasakan oleh orang lain, juga menjadi kebahagiaanya juga.
Bukan hanya itu saja, kendaraan yang dia punya, hanyalah mobil keluarga yang terkenal sebagai mobil sejuta umat. itupun sesekali tetangga atau warga lain meminjamnya jika ada urusan yang mendesak, tanpa sedikitpun dia merasa keberatan. Sebenarnya ada satu mobil lagi yang merupakan mobil inventaris dari kantornya, merk Toyota Innova type tertinggi dan keluaran terbaru, Tetapi dia tidak memanfaatkannya malah bertukar dengan mobil biasa yang berukuran lebih kecil. Jalan ke rumahnya kecil, dia tidak ingin mobilnya juga mengganggu yang lain.
Di tengah maraknya gaya hidup hedon yang justru banyak di lakukan oleh mereka yang menjadi pejabat, saya temui manusia zuhud seperti ini. Di tengah maraknya godaan kemewahan, dia masih bisa menjaga dan mengendalikan keinginan dan nafsunya. Di tengah orang yang hanya memikirkan keluarga dan perut dirinya sendiri, dia masih peduli dan memikirkan orang lain. Pun di tengah kesibukan dan padatnya aktivitas pentingnya, dia masih melakukan hal-hal sederhana untuk lingkungannya.
Orang semacam dia adalah orang yang tidak pernah pusing akan datang dan perginya dunia ini, dia sepertinya sudah selesai dengan dirinya sendiri. Jabatan yang di emban hanyalah amanah. kelak diapun tidak merasa kehilangan manakala jabatannya berakhir. Pola kehidupan sederhana yang dia tunjukkan terkadang membuat saya iri, kesempatan untuk bermewah dia punyai, tapi dia bisa mengekang dan mengendalikan diri, itu tidak mudah di tengah kehidupan dimana penghargaan manusia seringkali dinilai dengan properti yang menempel di dirinya.