Meski tidak rutin, tapi setidaknya saya sempatkan untuk sekedar jalan kaki di pagi hari. Olahraga murah meriah yang biasa saya lakukan di minggu pagi. Di Gelanggang olahraga biasanya akan ramai sekali orang yang berolahraga, anak muda dengan wall climbingnya ataupun ibu-ibu dan remaja putri dengan senam nya. sementara saya cukup mengitari lapangan bola. belum lagi ditambah ramainya pedagang yang mengais rejeki, mirip pasar tumpah sepanjang jalan pantura. Beranjak siang sedikit olah raga menjadi tidak nyaman karena berjejalnya orang-orang. Maka untuk menyiasatinya saya biasanya berangkat pagi.

Meski baru jam 5 pagi, nyatanya sering kali saya temui beberapa orang yang sudah aktif dengan olahraganya, jalan kaki atau berlari kecil, dan banyak yang saya temui mereka yang sudah usia lanjut. Mereka menyadari salah satu cara untuk tetap sehat adalah dengan bergerak. Pernah saya temui bapak yang usianya sudah 70 tahun lebih tapi beliau masih kuat jogging beberapa putaran mengitari stadion. Fisiknya masih terlihat sangat sehat. Rutinitas olahraga sudah beliau lakukan semenjak muda.

Beberapa kesempatan terakhir, saya juga lihat seorang bapak yang juga sedang berolahraga pagi, gerak kakinya cepat dan bersemangat meski terlihat kaki kirinya terlihat sedikit di seret, dan ada yang menarik di tulisan punggung kaosnya, tertera kalimat “I Run so i Can Eat” , itu cukup menyiratkan bahwa bapak tersebut pernah atau mungkin masih dalam tahap penyembuhan dari laranya.

Begitulah, setiap orang akan mengalami masa sakit dan memang manusia rentan dengan keadaan itu.Aktivitas fisik dan pikiran yang terkuras seringkali melupakan kita bahwa ada batas-batas yang tidak boleh kita lewati. Sakit adalah bentuk peringatan bahwa tubuh kita butuh istirahat, bahwa kita perlu melambatkan langkah, dan mendengarkan isyarat yang sering kali terabaikan. Tuhan mengajarkan kita untuk merenung, untuk memperhatikan keadaan kita, dan meresapi keberadaan-Nya dalam setiap detak jantung yang terasa.

Dalam keadaan sakit, kita sering kali merasa lemah, namun di situlah kita menemukan kekuatan yang baru. Setidaknya kuat dalam ketabahan hati. Di balik rasa sakit, tersembunyi anugerah kesabaran dan keteguhan dalam menghadapi ujian kehidupan. Saat tubuh kita terasa rapuh, pikiran kita dalam keheningan, itu semua mengajarkan untuk berserah dan menguatkan ikatan spiritual kita. Sakit membuka mata kita terhadap nikmat yang sering terabaikan.

Ketika usia semakin menua, sayapun sudah mulai menyadari ada yang salah dengan diri. Berpuluh tahun tinggal di metropolitan, membuat saya sering lupa dengan kesehatan, bahwa itu juga anugerah utama yang diberikan Tuhan. sakit dan sehat adalah seperti mata uang, yang akan berlawanan mengisi lembaran sisinya. Dua-duanya adalah anugerah yang sama mudahnya bagi Tuhan ciptakan. Manakala sakit kita menyadari betapa berharganya sebuah kesehatan, begitupun seharusnya, sehat membuat kita bersyukur bisa melakukan banyak hal yang tidak mungkin dilakukan saat sakit menghampiri.

Pola kehidupan kota yang serba cepat, dengan banyaknya tuntutan dan tekanan seringkali menghilangkan hal hal yang justru sangat penting. beberapa teman sudah berpulang, sahabat yang lain bertahan dengan dengan dua atau tiga ring untuk menopang kesehatan jantungnya. Masih terngiang dengan kalimat saat bertemu mereka ,” Mas, tetap sehat ya..”, itu hanya pesan singkat yang tidak lebih dari saya harus menyukuri nikmat kesehatan ini.

Sakit, dalam segala bentuknya, mengingatkan kita tentang betapa rapuhnya kehidupan ini. Sehingga dalam kelemahan ini kita belajar untuk menghargai setiap momen kesehatan, setiap kehangatan dalam keluarga, dan setiap kenyamanan dalam hidup kita.

Jika kita merenungi sakit sebagai bentuk kasih sayang Tuhan, kita akan menemukan makna yang lebih dalam di baliknya bahwa Dia selalu selalu menyertai kita. Dan dalam kesadaran itu, kita menemukan kekuatan untuk menerima, bersyukur, dan menemukan kedamaian. Lara bukanlah hukuman tetapi sebenarnya Dia sedang menunjukkan kasihNya yang tak terhingga.

Lara dan Anugerah Terindah

Meski tidak rutin, tapi setidaknya saya sempatkan untuk sekedar jalan kaki di pagi hari. Olahraga murah meriah yang biasa saya lakukan di minggu pagi. Di Gelanggang olahraga biasanya akan ramai sekali orang yang berolahraga, anak muda dengan wall climbingnya ataupun ibu-ibu dan remaja putri dengan senam nya. sementara saya cukup mengitari lapangan bola. belum lagi ditambah ramainya pedagang yang mengais rejeki, mirip pasar tumpah sepanjang jalan pantura. Beranjak siang sedikit olah raga menjadi tidak nyaman karena berjejalnya orang-orang. Maka untuk menyiasatinya saya biasanya berangkat pagi.

Meski baru jam 5 pagi, nyatanya sering kali saya temui beberapa orang yang sudah aktif dengan olahraganya, jalan kaki atau berlari kecil, dan banyak yang saya temui mereka yang sudah usia lanjut. Mereka menyadari salah satu cara untuk tetap sehat adalah dengan bergerak. Pernah saya temui bapak yang usianya sudah 70 tahun lebih tapi beliau masih kuat jogging beberapa putaran mengitari stadion. Fisiknya masih terlihat sangat sehat. Rutinitas olahraga sudah beliau lakukan semenjak muda.

Beberapa kesempatan terakhir, saya juga lihat seorang bapak yang juga sedang berolahraga pagi, gerak kakinya cepat dan bersemangat meski terlihat kaki kirinya terlihat sedikit di seret, dan ada yang menarik di tulisan punggung kaosnya, tertera kalimat “I Run so i Can Eat” , itu cukup menyiratkan bahwa bapak tersebut pernah atau mungkin masih dalam tahap penyembuhan dari laranya.

Begitulah, setiap orang akan mengalami masa sakit dan memang manusia rentan dengan keadaan itu.Aktivitas fisik dan pikiran yang terkuras seringkali melupakan kita bahwa ada batas-batas yang tidak boleh kita lewati. Sakit adalah bentuk peringatan bahwa tubuh kita butuh istirahat, bahwa kita perlu melambatkan langkah, dan mendengarkan isyarat yang sering kali terabaikan. Tuhan mengajarkan kita untuk merenung, untuk memperhatikan keadaan kita, dan meresapi keberadaan-Nya dalam setiap detak jantung yang terasa.

Dalam keadaan sakit, kita sering kali merasa lemah, namun di situlah kita menemukan kekuatan yang baru. Setidaknya kuat dalam ketabahan hati. Di balik rasa sakit, tersembunyi anugerah kesabaran dan keteguhan dalam menghadapi ujian kehidupan. Saat tubuh kita terasa rapuh, pikiran kita dalam keheningan, itu semua mengajarkan untuk berserah dan menguatkan ikatan spiritual kita. Sakit membuka mata kita terhadap nikmat yang sering terabaikan.

Ketika usia semakin menua, sayapun sudah mulai menyadari ada yang salah dengan diri. Berpuluh tahun tinggal di metropolitan, membuat saya sering lupa dengan kesehatan, bahwa itu juga anugerah utama yang diberikan Tuhan. sakit dan sehat adalah seperti mata uang, yang akan berlawanan mengisi lembaran sisinya. Dua-duanya adalah anugerah yang sama mudahnya bagi Tuhan ciptakan. Manakala sakit kita menyadari betapa berharganya sebuah kesehatan, begitupun seharusnya, sehat membuat kita bersyukur bisa melakukan banyak hal yang tidak mungkin dilakukan saat sakit menghampiri.

Pola kehidupan kota yang serba cepat, dengan banyaknya tuntutan dan tekanan seringkali menghilangkan hal hal yang justru sangat penting. beberapa teman sudah berpulang, sahabat yang lain bertahan dengan dengan dua atau tiga ring untuk menopang kesehatan jantungnya. Masih terngiang dengan kalimat saat bertemu mereka ,” Mas, tetap sehat ya..”, itu hanya pesan singkat yang tidak lebih dari saya harus menyukuri nikmat kesehatan ini.

Sakit, dalam segala bentuknya, mengingatkan kita tentang betapa rapuhnya kehidupan ini. Sehingga dalam kelemahan ini kita belajar untuk menghargai setiap momen kesehatan, setiap kehangatan dalam keluarga, dan setiap kenyamanan dalam hidup kita.

Jika kita merenungi sakit sebagai bentuk kasih sayang Tuhan, kita akan menemukan makna yang lebih dalam di baliknya bahwa Dia selalu selalu menyertai kita. Dan dalam kesadaran itu, kita menemukan kekuatan untuk menerima, bersyukur, dan menemukan kedamaian. Lara bukanlah hukuman tetapi sebenarnya Dia sedang menunjukkan kasihNya yang tak terhingga.

Related Posts