hardie |

Image by jcomp on Freepik
Di setiap perjalanan hidup, ada saat-saat di mana kita merenung dan terdampar dalam ombak penyesalan. ketika mengingat masa lalu. Jika Anda terbiasa menskenariokan hidup dengan catatan-catatan mengenai harapan ke depan seperti misalnya satu, lima atau sepuluh tahun ke depan, mungkin jika membuka catatan lama, Anda akan menemukan ada rencana-rencana hidup yang terlewatkan, cita-cita yang terhenti, keinginan yang tidak terwujud atau waktu sia-sia yang terlewati, dan kegagalan itu layaknya bayang-bayang yang mengejar kita.
Seorang rekan pernah mengeluh sembari kesal, bahwa waktunya dulu banyak tersita untuk menjaga calon istri orang. Ikatan yang dibangun kandas. Wanita yang diidamkan dan berharap hidup bersama tiba-tiba harus berpaling. Dalam realita kehidupan, terkadang kita mengalami momen di mana hati kita terpaut pada seseorang, tetapi takdir berkata lain. Ada wanita yang mungkin begitu istimewa, begitu memikat hati kita, namun pada akhirnya ia bukanlah milik kita. Ketika hati terpaut pada seseorang yang begitu istimewa, kita mungkin telah merencanakan banyak hal bersamanya. Namun, terkadang takdir memutuskan arah yang berbeda. Wanita yang kita cintai bisa saja memiliki tempat khusus dalam hati kita, tetapi bukan berarti ia akan menjadi bagian dari perjalanan hidup kita selanjutnya.
Di lain sisi, kenalan saya, yang sudah dalam posisi alur hidup sebagaimana yang direncanakan, kehidupan keluarganya mapan, karirnya pesat dengan posisi jabatan yang tinggi, pendidikannyapun mentereng karena titel doktor sudah didapatkannya. Bahkan insting bisnisnya lumayan bertaji, hingga dia punya satu dua lini usaha yang sudah mampu menopang argo rupiah kehidupannya. tetapi tiba-tiba dia harus kehilangan, istri yang dicintainya berpulang mendadak. Ada rasa terpukul dan penyesalan yang mendalam, penyesalan yang susah dijelaskan karena begitu lama proses menjalani hidup bersama dengan istrinya.
Saya mempunyai banyak teman yang berprofesi sebagai konsultan pendamping di daerah, puluhan tahun profesi itu yang dia tekuni, kontrak satu selesai, dia lanjut dengan kontrak yang lain, sehingga dia biasa berpindah-pindah di luar jawa, sedang istri anaknya tinggal di salah satu kota di Jawa. Pulangnya tidak bisa rutin bulanan, kadang 4 bulanan baru dia pulang. Ada satu momen yang menurutnya kurang yaitu memeluk atau sekadar merangkul anaknya. Ada saat-saat di mana sang anak yang sudah tumbuh dewasa enggan untuk menerima pelukan itu, sehingga momen kebersamaan dengan anak hilang, Meskipun terasa menyakitkan, dia belajar untuk menghormati ruang yang diberikan anaknya, memahami bahwa anaknya sudah tumbuh dewasa dengan dunianya sendiri, dengan cara pandang yang dimilikinya.
Akan banyak timbul kecewa maupun kesedihan jika kita membuka lembaran masa lalu, termasuk perjalanan hidup saya sendiri, baik terkait pendidikan, pekerjaan ataupun yang lain, andai mau dituliskan panjang, malah jadi mengingatkan saya akan rasa frustasi. Mengikhlaskan adalah proses yang membutuhkan waktu, kesabaran, dan ketenangan. Meski ini bukan tanda kelemahan, tetapi juga tidak mudah untuk berusaha memberanikan menerima apa yang seharusnya dan apa yang tidak. Sebagaimana rindu yang menggebu dalam hati seorang ayah di atas, keikhlasan yang ada bukanlah tentang menginginkan kembali masa lalu yang sudah berlalu.
Mengikhlaskan adalah tentang memahami bahwa ada hal-hal di luar kendali kita dan kadang-kadang memang tidak semua cerita memiliki akhir yang diharapkan. Semua tentang ketulusan dan kejujuran dalam menerima kenyataan, dan sesungguhnya proses itu berat dijalani.
Setiap orang pasti pernah dihinggapi rasa penyesalan. dan setiap orang mempunyai cara unik sendiri dalam mengatasinya, entah itu menjadi baik atau justru menjadi lebih buruk. Bagi saya sendiri, penyesalan yang ada berusaha saya nafikan, tentu setelah saya lakukan hal-hal yang harus diperbaiki, saya hanya tidak ingin penyesalan merenggut kebahagiaan dan harapan yang semoga masih bisa didapat. saya hanya berpikir, bahwa saat (dulu) itu saya hanya belum tahu. Setidaknya dengan mengikhlaskan dan melupakan kita membebaskan diri dari beban yang berlebihan dan menemukan kekuatan dalam menerima apa yang tak bisa kita ubah.