hardie |
Seringkali kita perhatikan, beberapa anak yang saat kita temui dulu masih bayi, masih kecil selang beberapa tahun kemudian, sudah menginjak remaja. bahkan mungkin itu putra putri kita sendiri, yang masih tergambar jelas dalam ingatan saat kita menimangnya, menyuapinya, melatih dia jalan, bercanda bersama tanpa terasa sudah beranjak dewasa. Kita memperhatikan mereka, sepertinya waktu mereka begitu cepat, sehingga tumbuh kembang mereka seolah jauh lebih cepat dari waktu yang sehari-hari kita miliki, kita seperti tercecer dalam perkembangan mereka. Layaknya pasir di antara jari-jari, Anak-anak kita, yang baru saja terdengar tawa mereka, tiba-tiba tumbuh dewasa, menyisakan jejak nostalgia yang menyentuh hati.
Ketika saya bertemu dengan orang tua, mereka yang usia nya sudah lebih dari 60 tahun, mereka juga merasa bahwa waktu yang mereka jalani begitu cepat. Matahari yang baru dirasa terbit, tak berselang mau kembali menjauh meredupkan cahaya sehingga hitamnya malam yang baru berangsur hilang, tiba-tiba datang menyelimuti dunia ini lagi dalam kegelapan. Detik demi detik akan cepat berlalu seperti sedang terburu mencapai garis finish. Ada rasa resah bahwa ada bekal yang kurang yang masih ingin mereka bawa.
Waktu yang dipakai anak-anak akan terlihat cepat, karena mereka memiliki indikator-indikator pengukurnya, fisik mereka yang tadinya kecil kemudian berkembang membesar menandakan adanya waktu pertumbuhan yang masih berjalan, pendidikan mereka mempunyai batasan waktu, membuat mereka mudah sekali ditandai, yang sebelumnya masih di TK beberapa lama tidak bertemu, mungkin sekarang sudah kelas 4 SD, yang sudah di akhir masa SD, empat tahun kemudian sudah di jenjang SMA. Penanda waktu yang cukup jelas, mengapa kemudian perjalanan waktu anak-anak begitu cepat.
Tetapi ketika masa tumbuh kembang mereka berhenti, mereka memasuki dunia kerja atau bahkan berkeluarga dengan segala pelik kehidupannya, sebagian sudah mulai merasa bahwa kehidupan yang dijalani terasa sangat lama. Problematika keseharian ataupun masalah yang sulit mendapatkan solusi membuat waktu seperti lambat berjalan. Kebosanan dan rasa frustasipun seringkali melanda.
Ibarat sebuah perjalanan darat, ketika anda menaiki kendaraan mengarah ke tujuan tertentu, maka pada awalnya anda akan merasa perjalanan anda akan lancar dan cepat, hal-hal yang umumnya sehari-hari anda lihat akan anda lewati dengan baik, selang kemudian perjalanan seolah melambat, anda merasa jenuh, entah itu pikiran, entah fisik yang lelah, namun ketika perjalanan anda sudah melewati setengahnya bahkan dua pertiga yang harus anda tempuh, tiba-tiba anda merasa perjalanan cepat kembali, semangat anda timbul, dan anda menyadari tujuan akan segera sampai.
Begitupun hidup, terkadang ketika melewati setengah perjalanan maka kita merasa bahwa hari-hari akan cepat berlalu. lalu seberapa setengah perjalanan itu?, usia manusia memang tidak ada yang tahu, setiap orang punya takdir usianya sendiri. Bisa saja mereka dalam keadaan sehat, tetapi besoknya hanya tinggal nama meski usia masih muda, ada yang sudah sangat sepuh tetapi terlihat bugar dan belum ada tanda-tanda kehidupan akan berakhir. Jika kita mau ambil rata-rata usia manusia 70 tahun, maka setelah melewati masa 40 tahun, perjalanan seolah menjadi cepat.
Melalui perjalanannya, waktu juga mengajarkan kepada kita tentang kenangan yang tercipta dan berlalu dengan cepat. Saat kita melihat sekeliling, kita menyaksikan bagaimana setiap momen terasa begitu berharga. Namun, waktu terus bergerak tanpa ampun, mengubah segalanya dengan sekejap, menuntun kita menuju babak baru dalam kehidupan.
Ada suatu ayat yang menegaskan bukan sekedar masalah waktunya, tetapi bagaimana kita mengisinya dengan baik. “, Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasihat menasihati supaya menaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran , ” demikian arti dari ayat tersebut, yang seharusnya begitulah cara kita menghargai waktu.
Seseorang yang telah divonis hukuman mati, seringkali lebih bisa menghargai waktu daripada kita yang tidak tahu kapan mati. padahal belum tentu yang di vonis mati akan lebih cepat dari kita dalam meninggalnya. saya pernah dengar seorang gembong narkoba, yang di dunianya bergelut penuh dalam kemaksiatan ketika di penjara menunggu waktu eksekusi, hidupnya digunakan untuk beribadah. lidahnya basah oleh dzikir dan menyebut namaNya, hatinya ikhlas akan apa yg menjadi takdirnya. dan konon regu tembak menyaksikan bagaimana dia tersenyum dalam kepergiannya.
Kembali ke perjalanan waktu, pada akhirnya siapapun yang membersamai kita, anak, istri, saudara, apalagi teman semua hanyalah pewarna dalam episode perjalanan dunia, waktu akan menghitung mundur kita dengan perjalanan yang baru, perjalanan yang kita tidak tahu seperti apa nantinya, perjalanan abadi, dalam kebahagiaan atau sebaliknya.
Saat kita menyadari kecepatan waktu, seharusnya ada kesadaran dalam menyentuh setiap momen dengan penghargaan yang dalam, membiarkannya menjadi kenangan yang penuh makna. Seiring waktu yang terus berjalan, mari kita belajar untuk menghargai setiap detik yang diberikan kepada kita. Meski waktu akan memisahkan kita, biarkan cinta dan kenangan kita menjadi bekal yang menghangatkan dalam perjalanan hidup.
