“Terima kasihku kuucapkan pada guruku yang tulus…..”, begitulah sepenggal baris dari lagu yang saat sekolah dulu sering kami nyanyikan, sebuah lagu sebagai bentuk penghargaan kepada guru. dan kami yang menyanyikan pun menampakkan mimik dengan serius , dengan menghayati, rasa terima kasih betul-betul di sematkan kepada kepada guru yang senantiasa menularkan ilmunya dengan ikhlas. dan ternyata bukan hanya lagu saja, kita sering mendengar tentang sebuah kata pahlawan. Ketika kita bicara tentang pelajaran sejarah, maka kita menyinggung nama-nama pahlawan, bagaimana kita menghargainya, dan biasanya untuk selalu tidak lupa dengan satu kata pahlawan yang lain yaitu pahlawan tanpa tanda jasa, yang itu merujuk ke guru.

Dulu, guru begitu dihormati. bagi para orang tua yang menitipkan anaknya untuk menggapai kecerdasan dan cita maupun oleh kami sebagai murid-muridnya. Suatu saat dimana saya sekolah dulu, dalam suatu pelajaran tiba-tiba kami sedikit becanda dan kepergok guru tersebut, guru tersebut yang bernama pak Sus, tiba-tiba mendekati saya, beliau menjewer telinga saya, teman-temanpun semua tertawa, tetapi aneh, saat itu tidak ada sedikitpun kami marah atau kesal kepada guru tersebut. Meski sakit, kita merasa biasa saja sewaktu-waktu kena teguran, jeweran dan sebagainya.

Ada salah satu guru yang umumnya akan terstigma galak, dan biasanya itu guru pelajaran matematika. dan rata-rata benar adanya. Sayapun pernah kena marahnya, guru tersebut sangat disiplin, termasuk masalah pakaian dan potongan rambut. saya yang rambutnya gondrong jelas kena marah. sampai akhirnya ada ulangan matematika. dan saat itu nilai saya tertinggi di kelas, apa yang tejadi, saya diberi kebebasan untuk boleh berambut gondrong. Belum lagi masalah ribut di kelas, dipanggil guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP), pura-pura pingsan dan sakit sampai gurunya kelabakan, juga gulungan koran yang sewaktu-waktu menepuk kepala kami adalah cerita-cerita lucu yang kalau ketemu teman-teman saat sekolah dulu pasti berakhir ngakak.

Dulu kalau guru kami marah, kami langsung menyadari kamilah yang salah, tidak tersirat sedikitpun rasa kesal dan dendam dengan guru kami. entahlah, apa karena guru kami menyampaikan segala hal dengan hati dan rasa yang terdalam kepada murid muridnya, sehingga kamipun menerimanya dengan lapang,bisa jadi. Bahkan kalaupun orang tua murid ada yang tahu anaknya kena semprot dari gurunya, bukannya di bela tetapi justru akan kena marah lagi di rumah, Mereka juga percaya dengan guru kami.

Miris kalau membaca berita-berita sekarang, seorang guru ditantang berkelahi oleh muridnya, malah suatu waktu saya baca seorang murid membacok gurunya dan itu terjadi di kelas, di lain berita saya baca seorang guru diketapel oleh orang tua murid, sehingga salah satu matanya buta permanen. masalahnya sepele, hanya karena si murid dimarahi oleh gurunya sehingga dia mengadu kepada orang tuanya. bukannya menasehati anaknya, tetapi justru si anak di bela habis-habisan, seolah dia sedang tidak menitipkan sebuah pengajaran hidup untuk bekal anaknya kelak.

Sepertinya memang sudah terjadi pergeseran nilai saat kami sekolah dulu dan sekarang. Dari sisi murid seperti ada sesuatu pelajaran yang hilang yang umumnya kami dapat saat itu, khususnya terkait dengan adab , etika dan sopan santun. Terkadang kita lihat, penghormatan kepada yang lebih tua sedikit terabaikan. Seorang guru, rekan saya, pernah mengeluh tentang hal yang sama, tentang perlakuan anak didiknya yang terkadang sulit dimengerti.

Tetapi di sisi lain, Guru sekarang juga sudah berbeda dengan guru zaman saya dulu, guru saat itu terkenal sekali dengan keprihatinannya. Gaji guru saat itu kecil, saya masih ingat bapak saya yang juga seorang guru, seringkali gajinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan dulu tiap bulan juga selalu dapat beras jatah, dulu selain gaji, guru juga mendapat jatah beras bulanan, emak kami menyebutnya beras catuan. Dulu guru betul-betul pengabdian, bahkan ketika mau ujian kelulusan, yang khawatir adalah guru kami, mereka takut kalau anak didiknya ada yang gagal, mereka dengan sekuat hati akan mendampingi dalam pembelajaran persiapan ujian tersebut, maka tidak heran jika kami biasanya beberapa bulan sebelumnya akan mulai les dan mengikuti pelajaran di rumah guru kami tersebut, apakah ada biaya, tidak sama sekali, guru kami tidak membebani apapun kepada murid-muridnya.

Tentu berbeda dengan guru sekarang, menurut saya jadi guru zaman sekarang sudah menjadi profesi yang menjanjikan apalagi ketika sudah menjadi Pegawai Negeri atau pun ketetapan tertentu seperti Perjanjian Kerja. Pemerintah sedikit banyak sudah memperhatikan. Gaji guru sekarang sudah lumayan tinggi sesuai dengan golongannya, apalagi kalau sudah sertifikasi, ada hak komptensi, hak cuti dan mungkin tunjangan-tunjangan lain. Di sisi lain, guru juga bisa menambah penghasilan lain, seperti mengajar les di lembaga pendidikan, mengajar privat, mengajar kelas online dan lain-lain, malah di tempat saya guru kelas enam biasanya mengajar les di rumah nya untuk persiapan kelulusan, berbeda dengan zaman saya dulu yang gratis, guru sekarang mematok biaya bulanan setidaknya 100 ribu rupiah, tentu jika satu kelas ada 30 dan mengikuti les semua, sudah ada tambahan penghasilan yang lumayan.

Tentu ini tidak menafikkan bahwa banyak guru lain yang nasibnya tidak seberuntung guru di atas, banyak yang masih honorer atau sebagai tenaga kerja harian dan lepas. sehingga perbandingan dengan guru yang sudah tetap sangat jauh atau kalau boleh dikatakan sangat timpang. yang terkadang hal-hal seperti ini bisa menimbulkan kecemburuan, apalagi jika beban mengajar sama atau justru terkadang lebih besar. Sebagian penghasilan ada yang masih di kisaran 300rban, sehingga tentu akan sulit menyeimbangkan pikiran dan fokus mengajar dengan dikejar kebutuhan rumah tangga ataupun biaya kehidupannya.

Ada juga berita miris lain dengan penghasilan yang sudah cukup, dan mungkin karena pengaruh perkembangan zaman dan teknologi, khususnya pengaruh media sosial, tidak sedikit sebagian oknum guru yang hidupnya hedon, ini yang menimbulkan bahaya. Guru bukanlah pengabdian lagi, tetapi justru sebagai ladang menguntungkan. Bagi guru yang penghasilannya pas-pasan sering ikut terjebak yang akhirnya kemudian mencari jalan pintas berupa hutang sana-sini, terlepas dari kebutuhan apa yang sedang diinginkannya, tetapi saya baca di media bahwa guru merupakan nasabah yang mempunyai kredit macet terbesar di aplikasi peminjaman dan pembiayaan online.

Di tengah satu dua informasi yang tidak enak di dengar, Masih banyak guru yang sangat menginspirasi, bahkan telah mengharumkan nama negara di kancah internasional. Dulu kita mendengar nama Qomarullah Lailiah dan Wahyana, guru SD dan SMP yang menjadi wasit olimpiade. Slamet Riyadi yang pernah mengikuti pelatihan di NASA. Bahkan banyak juga yang sangat berdedikasi seperti kisah untung, seorang pengajar tanpa lengan, Een sukaesih meski lumpuh, dia tetap masih bisa mengajar anak muridnya, ataupun para guru yang terpencil yang harus berjibaku dengan ganasnya alam ataupun lautan demi mengajar dan mencerdaskan anak -anak.

Saya bukanlah seorang guru, tetapi saya senang melihat guru yang juga punya relasi yang baik dengan murid-muridnya sebagaimana kisah saya dulu, Guru yang juga tidak saja ingin didengarkan tapi yang mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka bukan hanya pendengar yang baik, tetapi juga memahami apa yang dikatakan murid. Hal ini menciptakan rasa dihargai dan dipahami pada murid, sehingga membangun kepercayaan dan kedekatan.

Dengan memahami keunikan setiap murid, seorang guru dapat membangun pendekatan yang memotivasi dan memengaruhi murid secara positif. Mereka menyadari bahwa setiap anak memiliki kekuatan, kelemahan, dan minat yang berbeda. Kesabaran dan pengertian adalah kunci lainnya dalam membangun relasi yang baik. Guru yang memahami bahwa setiap murid tumbuh dan belajar pada tingkat yang berbeda akan menghadapi muridnya dengan kesabaran. Mereka membantu murid untuk mengatasi kesulitan dengan penuh pengertian, menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi murid untuk belajar dan berkembang.

Guru harus menjadi figur otoritas yang ditaati oleh murid. Namun, otoritas ini bukan semata-mata karena kekuatan atau perintah, tetapi lebih karena penghormatan dan penghargaan yang telah dibangun oleh guru melalui hubungan yang baik. Ketika murid merasa dihormati dan dihargai, maka timbal baliknya guru akan cenderung digugu (dipatuhi) oleh anak didiknya.

Guru yang memberikan inspirasi dan membangun kepercayaan diri pada murid-muridnya, juga akan menjadi guru yang disukai. Mereka bukan hanya mengajarkan materi, tetapi juga menjadi contoh yang baik untuk ditiru. Guru yang menginspirasi akan mendorong murid untuk meraih potensi terbaik mereka, memberikan semangat dalam mencapai impian, dan menjadikan proses belajar lebih menyenangkan.

Guru yang memiliki relasi yang kuat dengan muridnya adalah mereka yang memahami peran pentingnya tidak hanya dalam memberikan pengetahuan, tetapi juga dalam membimbing, memotivasi, dan menciptakan ikatan yang kuat dengan setiap murid. Ini membutuhkan empati, kesabaran, inspirasi, dan kepercayaan.

Selamat Hari Guru..!

Guru, Masihkah digugu dan ditiru ?

“Terima kasihku kuucapkan pada guruku yang tulus…..”, begitulah sepenggal baris dari lagu yang saat sekolah dulu sering kami nyanyikan, sebuah lagu sebagai bentuk penghargaan kepada guru. dan kami yang menyanyikan pun menampakkan mimik dengan serius , dengan menghayati, rasa terima kasih betul-betul di sematkan kepada kepada guru yang senantiasa menularkan ilmunya dengan ikhlas. dan ternyata bukan hanya lagu saja, kita sering mendengar tentang sebuah kata pahlawan. Ketika kita bicara tentang pelajaran sejarah, maka kita menyinggung nama-nama pahlawan, bagaimana kita menghargainya, dan biasanya untuk selalu tidak lupa dengan satu kata pahlawan yang lain yaitu pahlawan tanpa tanda jasa, yang itu merujuk ke guru.

Dulu, guru begitu dihormati. bagi para orang tua yang menitipkan anaknya untuk menggapai kecerdasan dan cita maupun oleh kami sebagai murid-muridnya. Suatu saat dimana saya sekolah dulu, dalam suatu pelajaran tiba-tiba kami sedikit becanda dan kepergok guru tersebut, guru tersebut yang bernama pak Sus, tiba-tiba mendekati saya, beliau menjewer telinga saya, teman-temanpun semua tertawa, tetapi aneh, saat itu tidak ada sedikitpun kami marah atau kesal kepada guru tersebut. Meski sakit, kita merasa biasa saja sewaktu-waktu kena teguran, jeweran dan sebagainya.

Ada salah satu guru yang umumnya akan terstigma galak, dan biasanya itu guru pelajaran matematika. dan rata-rata benar adanya. Sayapun pernah kena marahnya, guru tersebut sangat disiplin, termasuk masalah pakaian dan potongan rambut. saya yang rambutnya gondrong jelas kena marah. sampai akhirnya ada ulangan matematika. dan saat itu nilai saya tertinggi di kelas, apa yang tejadi, saya diberi kebebasan untuk boleh berambut gondrong. Belum lagi masalah ribut di kelas, dipanggil guru Bimbingan dan Penyuluhan (BP), pura-pura pingsan dan sakit sampai gurunya kelabakan, juga gulungan koran yang sewaktu-waktu menepuk kepala kami adalah cerita-cerita lucu yang kalau ketemu teman-teman saat sekolah dulu pasti berakhir ngakak.

Dulu kalau guru kami marah, kami langsung menyadari kamilah yang salah, tidak tersirat sedikitpun rasa kesal dan dendam dengan guru kami. entahlah, apa karena guru kami menyampaikan segala hal dengan hati dan rasa yang terdalam kepada murid muridnya, sehingga kamipun menerimanya dengan lapang,bisa jadi. Bahkan kalaupun orang tua murid ada yang tahu anaknya kena semprot dari gurunya, bukannya di bela tetapi justru akan kena marah lagi di rumah, Mereka juga percaya dengan guru kami.

Miris kalau membaca berita-berita sekarang, seorang guru ditantang berkelahi oleh muridnya, malah suatu waktu saya baca seorang murid membacok gurunya dan itu terjadi di kelas, di lain berita saya baca seorang guru diketapel oleh orang tua murid, sehingga salah satu matanya buta permanen. masalahnya sepele, hanya karena si murid dimarahi oleh gurunya sehingga dia mengadu kepada orang tuanya. bukannya menasehati anaknya, tetapi justru si anak di bela habis-habisan, seolah dia sedang tidak menitipkan sebuah pengajaran hidup untuk bekal anaknya kelak.

Sepertinya memang sudah terjadi pergeseran nilai saat kami sekolah dulu dan sekarang. Dari sisi murid seperti ada sesuatu pelajaran yang hilang yang umumnya kami dapat saat itu, khususnya terkait dengan adab , etika dan sopan santun. Terkadang kita lihat, penghormatan kepada yang lebih tua sedikit terabaikan. Seorang guru, rekan saya, pernah mengeluh tentang hal yang sama, tentang perlakuan anak didiknya yang terkadang sulit dimengerti.

Tetapi di sisi lain, Guru sekarang juga sudah berbeda dengan guru zaman saya dulu, guru saat itu terkenal sekali dengan keprihatinannya. Gaji guru saat itu kecil, saya masih ingat bapak saya yang juga seorang guru, seringkali gajinya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Bahkan dulu tiap bulan juga selalu dapat beras jatah, dulu selain gaji, guru juga mendapat jatah beras bulanan, emak kami menyebutnya beras catuan. Dulu guru betul-betul pengabdian, bahkan ketika mau ujian kelulusan, yang khawatir adalah guru kami, mereka takut kalau anak didiknya ada yang gagal, mereka dengan sekuat hati akan mendampingi dalam pembelajaran persiapan ujian tersebut, maka tidak heran jika kami biasanya beberapa bulan sebelumnya akan mulai les dan mengikuti pelajaran di rumah guru kami tersebut, apakah ada biaya, tidak sama sekali, guru kami tidak membebani apapun kepada murid-muridnya.

Tentu berbeda dengan guru sekarang, menurut saya jadi guru zaman sekarang sudah menjadi profesi yang menjanjikan apalagi ketika sudah menjadi Pegawai Negeri atau pun ketetapan tertentu seperti Perjanjian Kerja. Pemerintah sedikit banyak sudah memperhatikan. Gaji guru sekarang sudah lumayan tinggi sesuai dengan golongannya, apalagi kalau sudah sertifikasi, ada hak komptensi, hak cuti dan mungkin tunjangan-tunjangan lain. Di sisi lain, guru juga bisa menambah penghasilan lain, seperti mengajar les di lembaga pendidikan, mengajar privat, mengajar kelas online dan lain-lain, malah di tempat saya guru kelas enam biasanya mengajar les di rumah nya untuk persiapan kelulusan, berbeda dengan zaman saya dulu yang gratis, guru sekarang mematok biaya bulanan setidaknya 100 ribu rupiah, tentu jika satu kelas ada 30 dan mengikuti les semua, sudah ada tambahan penghasilan yang lumayan.

Tentu ini tidak menafikkan bahwa banyak guru lain yang nasibnya tidak seberuntung guru di atas, banyak yang masih honorer atau sebagai tenaga kerja harian dan lepas. sehingga perbandingan dengan guru yang sudah tetap sangat jauh atau kalau boleh dikatakan sangat timpang. yang terkadang hal-hal seperti ini bisa menimbulkan kecemburuan, apalagi jika beban mengajar sama atau justru terkadang lebih besar. Sebagian penghasilan ada yang masih di kisaran 300rban, sehingga tentu akan sulit menyeimbangkan pikiran dan fokus mengajar dengan dikejar kebutuhan rumah tangga ataupun biaya kehidupannya.

Ada juga berita miris lain dengan penghasilan yang sudah cukup, dan mungkin karena pengaruh perkembangan zaman dan teknologi, khususnya pengaruh media sosial, tidak sedikit sebagian oknum guru yang hidupnya hedon, ini yang menimbulkan bahaya. Guru bukanlah pengabdian lagi, tetapi justru sebagai ladang menguntungkan. Bagi guru yang penghasilannya pas-pasan sering ikut terjebak yang akhirnya kemudian mencari jalan pintas berupa hutang sana-sini, terlepas dari kebutuhan apa yang sedang diinginkannya, tetapi saya baca di media bahwa guru merupakan nasabah yang mempunyai kredit macet terbesar di aplikasi peminjaman dan pembiayaan online.

Di tengah satu dua informasi yang tidak enak di dengar, Masih banyak guru yang sangat menginspirasi, bahkan telah mengharumkan nama negara di kancah internasional. Dulu kita mendengar nama Qomarullah Lailiah dan Wahyana, guru SD dan SMP yang menjadi wasit olimpiade. Slamet Riyadi yang pernah mengikuti pelatihan di NASA. Bahkan banyak juga yang sangat berdedikasi seperti kisah untung, seorang pengajar tanpa lengan, Een sukaesih meski lumpuh, dia tetap masih bisa mengajar anak muridnya, ataupun para guru yang terpencil yang harus berjibaku dengan ganasnya alam ataupun lautan demi mengajar dan mencerdaskan anak -anak.

Saya bukanlah seorang guru, tetapi saya senang melihat guru yang juga punya relasi yang baik dengan murid-muridnya sebagaimana kisah saya dulu, Guru yang juga tidak saja ingin didengarkan tapi yang mendengarkan dengan penuh perhatian. Mereka bukan hanya pendengar yang baik, tetapi juga memahami apa yang dikatakan murid. Hal ini menciptakan rasa dihargai dan dipahami pada murid, sehingga membangun kepercayaan dan kedekatan.

Dengan memahami keunikan setiap murid, seorang guru dapat membangun pendekatan yang memotivasi dan memengaruhi murid secara positif. Mereka menyadari bahwa setiap anak memiliki kekuatan, kelemahan, dan minat yang berbeda. Kesabaran dan pengertian adalah kunci lainnya dalam membangun relasi yang baik. Guru yang memahami bahwa setiap murid tumbuh dan belajar pada tingkat yang berbeda akan menghadapi muridnya dengan kesabaran. Mereka membantu murid untuk mengatasi kesulitan dengan penuh pengertian, menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi murid untuk belajar dan berkembang.

Guru harus menjadi figur otoritas yang ditaati oleh murid. Namun, otoritas ini bukan semata-mata karena kekuatan atau perintah, tetapi lebih karena penghormatan dan penghargaan yang telah dibangun oleh guru melalui hubungan yang baik. Ketika murid merasa dihormati dan dihargai, maka timbal baliknya guru akan cenderung digugu (dipatuhi) oleh anak didiknya.

Guru yang memberikan inspirasi dan membangun kepercayaan diri pada murid-muridnya, juga akan menjadi guru yang disukai. Mereka bukan hanya mengajarkan materi, tetapi juga menjadi contoh yang baik untuk ditiru. Guru yang menginspirasi akan mendorong murid untuk meraih potensi terbaik mereka, memberikan semangat dalam mencapai impian, dan menjadikan proses belajar lebih menyenangkan.

Guru yang memiliki relasi yang kuat dengan muridnya adalah mereka yang memahami peran pentingnya tidak hanya dalam memberikan pengetahuan, tetapi juga dalam membimbing, memotivasi, dan menciptakan ikatan yang kuat dengan setiap murid. Ini membutuhkan empati, kesabaran, inspirasi, dan kepercayaan.

Selamat Hari Guru..!

Related Posts