hardie |
Pagi-pagi saya membuka grup aplikasi media sosial. Di salah satu grup yang saya ikuti, ada kiriman pesan yang berisi foto-foto korban kecelakaan yang saat itu terjadi di Jalan tol menuju Jakarta. Kecelakaan beruntun yang melibatkan beberapa kendaraan. Sebagian dari kendaraan itu ringsek dan rusak berat. Serpihan kaca berantakan dimana-mana. Bahkan sebagian penumpang terlempar dari kendaraan tersebut. Kondisi korban terlihat jelas, beberapa sudah meninggal dengan luka-luka yang cukup serius, darah berceceran di mana-mana, pun ada juga yang harus kehilangan beberapa bagian tubuhnya atau hancur karena benturan kecelakaan itu. Saya melihat jelas dari foto-foto tersebut, Tentu kasihan, empati dan doa buat para korban, tetapi saya sedikit ngilu dan merasa tidak nyaman sendiri melihat foto-foto yang dikirim tersebut.
Sementara di grup media sosial yang lain, ada pesan masuk yang berisi tentang informasi informasi yang masih harus diuji validitasnya yang kadang dibumbui dengan sedikit nuansa agama agar terkesan meyakinkan, entah itu posting terkait kesehatan, politik atau hal-hal lain. Dan di ujungnya biasanya berisi ajakan agar pesan tersebut juga di share sebagai ladang amal jariyah (katanya). Bahkan ada yang sedikit di bumbui angin sorga, kalau share tersebut ke minimal 10 orang maka dalam waktu dekat rezeki melimpah akan datang, hmm enak sekali ya. Sudah dapat dapat pahala ada juga rezeki nya.
Tapi begitulah fenomena saat ini, media sosial telah mengganti cara kita berkomunikasi. Siapapun sekarang bisa mewartakan apapun. Dua yang saya sampaikan di atas adalah contohnya. Tentang bagaimana orang menginfokan sebuah kecelakaan, dan yang pasti orang yang menginformasikan serta mengambil gambar adalah orang yang berada di di TKP yang pada akhirnya pesan yang dia kirim pertama akan di teruskan tidak terkendali, ke grup-grup lain tanpa si pengirim pertama tahu. Contoh yang kedua sama saja, pada akhirnya pesan akan terkirim berantai ke grup-grup lain. Memang keuntungan dari keberadaan kemajuan teknologi sekarang ini, khususnya pada aplikasi social media membuat informasi bisa di dapat hamper atau bahkan secara real time. Dimana ada kejadian tertentu maka informasi tersebut akan cepat menyebar dan diketahui.
Tetapi tidak setiap informasi yang cepat pasti baik. Berita-berita akan banyak berseliweran yang sering kita luput untuk menyaringnya. Dari aplikasi perpesanan saja, tiap hari kita mendapatkan banyak sekali berita dan informasi. Dengan aplikasi yang pengaturan notifikasinya aktif, jelas sebentar-sebentar kita akan mengecek pesan apa yang masuk. Dan bisa di katakana pesan yang benar-benar penting bagi kita pastilah tidak seberapa di banding pesan yang yang justru tidak penting. Pesan-pesan yang boleh dikatakan sebagai pesan sampah tersebut yang justru membuat kita tidak bisa lepas dari gawai tersebut.
Fenomena media social juga menjadikan ada perubahan perilaku bagi sebagian banyak orang, apalagi sekarang terkenal sebagai era konten, sehingga segala apapun dijadikan materi/konten. Khususnya untuk media sosial yang berplatforn foto maupun video. saya melihat banyak sekali orang yang kepekaannya sudah mulai hilang, Sehingga apapun itu akan jadi konten mereka. Yang penting bagaimana mereka bisa menginformasikan pertama kali.
Dan seringkali pihak yang menerima, acapkali meneruskan (forward) info yang di terima. Apalagi jika informasi itu sepertinya heboh atau menarik. Maka kita bisa melihat seringkali kita menerima pesan yang sama yang sudah berulangkali di share/forward. padahal penggunaan media social juga ada etikanya. Jangan sampai media social justru membuat tidak nyaman, atau justru kepanikan bagi si penggunanya. Setidaknya kita harus periksa akan pesan dan informasi yang kita terima. Apakah benar? Apakah bermanfaat? , dua kriteria itu cukup sebagaui minimal syarat kita menggunakan media social dengan baik.
Benar, adalah terkait dengan isi berita. Apakah pesan/info yang masuk merupakan informasi yang valid. Apakah bukan berita/informasi bohong ? kita sering mendengar istilah hoax (berita bohong), karena memang kenyataannya banyak sekali info-info yang beredar yang sebenarnya itu adalah info palsu, tidak sesuai aslinya. Tetap karena informasi tersebut heboh kemudian tanpa sadar banyak orang yang men-share ulang yang kemudian jadi viral. Jika terkait orang atau individu tertentu, pasti hal itu akan bisa merugikan. untuk mengecek berita itu hoax atau tidak, minimal kita bisa googling akan info tersebut, dari beberapa website yang kita temukan biasanya kita akan bisa mendapatkan gambaran info tersebut sehingga kita bisa tahu apakah informasi tersebut benar atau hanya hoax semata.
Berikutnya adalah kebermanfaatan. Apakah pesan yang kita terima atau justru yang akan kita kirim bermanfaat. Jika tidak, sebaiknya tidak perlu kita kirim. Apalagi jika pesan tersebut justru akan menimbulkan efek negative, misal kepanikan. Termasuk juga info-info yang tidak benar. Apalagi sekarang ini, di tahun-tahun politik, informasi akan banyak membanjiri masuk ke gadget kita. Info jelek tentang partai yang tidak di suka, akan di share secepatnya tanpa di cross-check terlebih dahulu. Jadi bijaklah dalam menggunakan media social.
