hardie |
Pagi ini ada notifikasi di hp, tentang berita duka cita meninggalnya kawan saya yang dulu sempat bekerja bersama di perusahaan. Rekan lain bercerita, sebelumnya almarhum terlihat biasa saja dan tidak pernah mengeluh tanda-tanda sakit. bahkan malam sebelumnya masih sempat menghadiri sebuah pengajian rutin. Tetapi paginya sempat mengeluh sakit kemudian dia dibawa ke rumah sakit terdekat tapi nyawanya tidak tertolong.
Dan info berita rekan meninggal ini sudah kesekian kalinya untuk beberapa hari terakhir, satu demi satu teman dan sahabat dekat dipanggil pulang ke sisiNya. Yang kemarin masih sempat berikirim kabar, tetiba sekarang sudah tidak ada. Kalau melihat dari usia, mereka masih dalam usia sehat, rentang usia 40-50an. tetapi memang ajal tidak mengenal usia. Sebagian dari mereka mengalami keadaan sakit sebelumnya, penyakit-penyakit yang dulu menurut saya berat tetapi sekarang sudah seperti penyakit umum,seperti stroke, diabetes, serangan jantung adalah hal-hal yang menjadi biasa terdengar sehari-hari.
Sayapun mempunyai beberapa teman, usianya beberapa tahun di bawah saya. dan sudah pasang ring untuk kesehatan jantungnya. rekan yang lain sedang berjuang mengatasi strokenya dan satu dua yang lain selalu berjuang keras dengan pola dietnya kalau masih ingin tetap sehat. Bahkan teman yang dulu sering mengantar saya bepergian saat saya di jakarta, kini terpaksa harus menjalani cuci darah 2 kali seminggu.
Jelas kendala kesehatan membuat aktivitas jadi terganggu. Bagaimana melakukan kegiatan untuk meningkatkan kualitas hidupnya, jika pada akhirnya perjuangan yang ada hanya untuk berjuang bertahan sehat, bertahan hidup. teman saya yang tadinya sering keluar kota, menjadi terhenti bekerjanya karena rutinitas wajib cuci darah yang dilakukannya.
Entah ini karena pola makan atau gaya hidup sehingga kesehatan mereka akhirnya terganggu. apalagi sebagian besar dari teman-teman saya yang sakit umumnya yang mereka tinggal di kota besar. sebagian memang di Jakarta, dimana sebagian besar waktu saya juga saya habiskan bekerja di sana. Melihat kehidupan kota yang serba cepat dan akhirnya terbawa ke kehidupan masing-masing individunya. Susah mencari keadaan yang santai di jakarta. Dari pagi hari orang sudah keluar berjuang di jalanan demi tidak terlambat di kantor, macet di jalan raya atau sebagai komuter berdesakan di kereta. Belum keadaan tekanan pekerjaan di kantor, selepas kerja pulangnya pun harus berjuang berdesakan. Malah seorang teman jam 5.00 pagi harus sudah berangkat dan diatas jam 20.00 baru sampai di rumah kembali, begitulah rutinitas tiap hari.
Dan kondisi itu yang membuat akhirnya banyak orang yang sakit, pola hidup dan rutinitas pagi yang membuat otot pikiran tegang yang merembet ke pola yang lain, khususnya pola makan. Akhirnya makanpun sembarang, terkadang asal enak. saya masih ingat teman suka sekali makan di restoran cepat saja plus minum minuman yang bersoda. mungkin sesekali tidak masalah, tetapi kalau sudah keseringan, jelas ini akan berdampak pada kesehatan. Di samping itu tuntutan pekerjaan membuat dirinya seringkali begadang, yang akhirnya pola tidurnya pun berantakan.
Tetapi memang tidak semua, ada juga yang pintar sekali mengatur waktu sehingga kehidupannya jadi seimbang. karena merasa bahwa tekanan dan rutinitas kehidupan di kota yang jelas berbeda. maka dia berusaha bisa mengelola kehidupannya dengan baik. Olahraga rutin dilakukan, pun dia selalu membawa makanan masakan istrinya. mungkin tidak seenak makanan restoran, tapi yang ini jelas lebih sehat. pun dia disiplin, tenang dalam menghadapi masalah apapun, bagaimanapun dia menjaga mental dan psikisnya agar terlihat tetap sehat.
Kematian memang tidak memandang tempat, tidak memandang usia, juga tidak memandang sehat tidaknya orang tersebut. Jika sudah masanya kembali Tuhan tetap akan panggil kita dengan caraNya. tetapi itu rahasia Tuhan. Perihal menjaga kesehatan tetaplah tugas kita. Tubuh ini adalah amanah dan titipan yang harus dijaga juga. Menjaga jasad ini tetap baik dan sehat adalah kewajiban kita. tetapi terkadang membagi waktu tidak mudah, sehingga kita tanpa sadar kerap meletakkan kesehatan justru di prioritas akhir.
Sehingga ketika kesehatan ambruk. aktivitas juga berhenti, bisnis jadi runtuh dan pekerjaan jadi terbengkalai, dan ujung-ujungnya berpengaruh menggerus kondisi finansial. Apalagi biaya kesehatan makin ke sini makin mahal. Betul, mungkin kita mempunyai asuransi atau BPJS misalnya, tapi jenis penyakit yang ditanggung juga makin dibatasi, ada penyakit-penyakit tertentu sudah mulai hilang dari daftar yang di tanggung, dan itu adalah penyakit-penyakit yang butuh biaya besar.
saya sendiripun dulu pernah mengalami sakit yang terpaksa harus menginap beberapa lama di Rumah sakit, dan lagi-lagi pola makan dan gaya hidup saya yang salah jadi jawaban dokter. Meski kadang akhir-akhir ini sering lupa, kembali ke kebiasaan lama. karena di rasa sehat-sehat saja, lupa tidak berolahraga, makan tidak teratur, sering begadang. Tapi setidaknya kabar tentang berpulangnya teman untuk ke sekian kalinya, menjadikan saya pribadi lebih menata diri lagi, dan menyadari bahwa kesehatan sangat mahal harganya.