Beberapa hari terakhir anak saya kalau pulang sekolah membawa brosur, brosur terlipat tersebut lumayan tebal dan ada beberapa lembar, selain satu lembar brosur yang berwarna juga ada lembar lain, salah satunya lembar form pendaftaran. Ini sudah ke sekian kali dia bawa brosur sepulang sekolah, kadang hanya dilipat dan di steples biasa, sesekali saya pernah lihat brosur dimasukkan ke dalam amplop yang cukup besar, sehingga terkesan lebih bagus. brosur itu adalah brosur bimbingan belajar (bimbel) yang katanya oleh seseorang dibagikan ke hampir semua siswa di depan pintu keluar pulang sekolah.

isi brosur itu sendiri adalah paket-paket belajar siswa, dari berbagai tingkat pendidikan, dari kelas 4 SD sampai dengan kelas 12 SMA. selain paket reguler beberapa menawarkan kelas khusus, misal program untuk prestasi di kelas maupun program persiapan masuk Perguruan Tinggi Negeri. disamping itu ada juga disebutkan fasilitas di lembaga bimbingan belajar tersebut misalnya yang jumlah siswanya di batasi, per kelas hanya 5 siswa sehingga diharapkan siswa lebih fokus dalam mengikuti materi. dan mengenai harga tentu bervariasi dari ratusan ribu  sampai dengan puluhan jutaan rupiah per tahunnya.

Memang saya lihat, sekarang banyak sekali bimbingan belajar di kota kami, yang umumnya bimbingan belajar yang sudah terkenal dari kota  lain. entah itu sistem usahanya franchise atau memang sengaja buka cabang atau sistem bisnis yang lain. Tentu dari sekian banyak bimbingan belajar , mereka menawarkan dn mempromosikan kelebihan bimbelnya masing-masing, kadang bisa kita lihat dan baca kelebihan-kelebihan yang mereka promosikan dalam brosur yang mereka bagikan.

Sesekali lembaga bimbel  juga mengadakan kerjasama dengan sekolah, saya pernah lihat mereka mengadakan seperti psikotest yang katanya untuk mengetahui rata-rata tingkat kemampuan siswa dalam menguasai mata pelajaran. apakah ujung dari test tersebut pada akhirnya ajakan agar si siswa kemudian mengikuti bimbingan belajar pada lembaganya. entahlah.

Zaman memang sudah berubah, masa saya sekolah dulu, sudah ada juga bimbingan belajar meski tidak menjamur seperti sekarang ini. kalau pada masa dulu bimbel hanya unttuk persiapan kelulusan dan masuk perguruan Tinggi saja, jadi yang disasar memang hanya siswa kelas 3 SMA ( sekarang kelas XII), sepertinya belum ada saat itu bimbingan belajar untuk para pelajar kelas-kelas di bawahnya. 

Pun sekarang era teknologi informasi, bimbel tidak hanya offline saja, bahkan beberapa lembaga bimbel menyediakan layanan online. siswa cukup belajar dari rumah dengan membuka laptop atau aplikasi di smartphone. Pembelajaran bisa dilakukan berulang jika di rasa belum jelas, tersedia juga ada forum interaktif dan latihan ulangan yang bisa dilakukan secara online, dan skor pun bisa diketahui secara langsung. 

Tapi memang tidak semua  pelajaran yang diajarkan di bimbel, biasanya seputar pelajaran inti saja. kalau dulu adalah pelajaran-pelajaran untuk ujian nasional atau pelajaran yang akan diujikan saat seleksi masuk perguruan Tinggi, atau rata-rata pelajaran eksakta, seperti IPA dan Matematika, apakah sekarang masih sama? tidak ada mata pelajaran lain. pernah ada rekan yang nyeletuk, bahwa lembaga bimbel juga perlu mengadakan mata pelajaran khusus yaitu adab dan etika , katanya etika pelajar sekarang beda banget dengan dulu, cenderung lebih menurun katanya …hehehe..apa benar ya?

Keberadaan lembaga bimbel kadang menggelitik juga ya, apa pelajaran yang disampaikan di sekolah kurang bisa diserap siswa atau justru terlalu banyak pelajaran yang harus dipelajari siswa sehingga kekurangan waktu kalau harus menguasai di sekolah, atau kualitas guru di sekolah yang kurang baik. tentu keberadaan bimbel akan membantu mempercepat bagi siswa yang ikut, tapi bagaimana dengan pelajar yang memang tidak punya akses ke bimbel, tidak ada biaya untuk membayarnya dan hanya mengandalkan pelajaran dari sekolah?

Maraknya Bisnis Bimbel

Beberapa hari terakhir anak saya kalau pulang sekolah membawa brosur, brosur terlipat tersebut lumayan tebal dan ada beberapa lembar, selain satu lembar brosur yang berwarna juga ada lembar lain, salah satunya lembar form pendaftaran. Ini sudah ke sekian kali dia bawa brosur sepulang sekolah, kadang hanya dilipat dan di steples biasa, sesekali saya pernah lihat brosur dimasukkan ke dalam amplop yang cukup besar, sehingga terkesan lebih bagus. brosur itu adalah brosur bimbingan belajar (bimbel) yang katanya oleh seseorang dibagikan ke hampir semua siswa di depan pintu keluar pulang sekolah.

isi brosur itu sendiri adalah paket-paket belajar siswa, dari berbagai tingkat pendidikan, dari kelas 4 SD sampai dengan kelas 12 SMA. selain paket reguler beberapa menawarkan kelas khusus, misal program untuk prestasi di kelas maupun program persiapan masuk Perguruan Tinggi Negeri. disamping itu ada juga disebutkan fasilitas di lembaga bimbingan belajar tersebut misalnya yang jumlah siswanya di batasi, per kelas hanya 5 siswa sehingga diharapkan siswa lebih fokus dalam mengikuti materi. dan mengenai harga tentu bervariasi dari ratusan ribu  sampai dengan puluhan jutaan rupiah per tahunnya.

Memang saya lihat, sekarang banyak sekali bimbingan belajar di kota kami, yang umumnya bimbingan belajar yang sudah terkenal dari kota  lain. entah itu sistem usahanya franchise atau memang sengaja buka cabang atau sistem bisnis yang lain. Tentu dari sekian banyak bimbingan belajar , mereka menawarkan dn mempromosikan kelebihan bimbelnya masing-masing, kadang bisa kita lihat dan baca kelebihan-kelebihan yang mereka promosikan dalam brosur yang mereka bagikan.

Sesekali lembaga bimbel  juga mengadakan kerjasama dengan sekolah, saya pernah lihat mereka mengadakan seperti psikotest yang katanya untuk mengetahui rata-rata tingkat kemampuan siswa dalam menguasai mata pelajaran. apakah ujung dari test tersebut pada akhirnya ajakan agar si siswa kemudian mengikuti bimbingan belajar pada lembaganya. entahlah.

Zaman memang sudah berubah, masa saya sekolah dulu, sudah ada juga bimbingan belajar meski tidak menjamur seperti sekarang ini. kalau pada masa dulu bimbel hanya unttuk persiapan kelulusan dan masuk perguruan Tinggi saja, jadi yang disasar memang hanya siswa kelas 3 SMA ( sekarang kelas XII), sepertinya belum ada saat itu bimbingan belajar untuk para pelajar kelas-kelas di bawahnya. 

Pun sekarang era teknologi informasi, bimbel tidak hanya offline saja, bahkan beberapa lembaga bimbel menyediakan layanan online. siswa cukup belajar dari rumah dengan membuka laptop atau aplikasi di smartphone. Pembelajaran bisa dilakukan berulang jika di rasa belum jelas, tersedia juga ada forum interaktif dan latihan ulangan yang bisa dilakukan secara online, dan skor pun bisa diketahui secara langsung. 

Tapi memang tidak semua  pelajaran yang diajarkan di bimbel, biasanya seputar pelajaran inti saja. kalau dulu adalah pelajaran-pelajaran untuk ujian nasional atau pelajaran yang akan diujikan saat seleksi masuk perguruan Tinggi, atau rata-rata pelajaran eksakta, seperti IPA dan Matematika, apakah sekarang masih sama? tidak ada mata pelajaran lain. pernah ada rekan yang nyeletuk, bahwa lembaga bimbel juga perlu mengadakan mata pelajaran khusus yaitu adab dan etika , katanya etika pelajar sekarang beda banget dengan dulu, cenderung lebih menurun katanya …hehehe..apa benar ya?

Keberadaan lembaga bimbel kadang menggelitik juga ya, apa pelajaran yang disampaikan di sekolah kurang bisa diserap siswa atau justru terlalu banyak pelajaran yang harus dipelajari siswa sehingga kekurangan waktu kalau harus menguasai di sekolah, atau kualitas guru di sekolah yang kurang baik. tentu keberadaan bimbel akan membantu mempercepat bagi siswa yang ikut, tapi bagaimana dengan pelajar yang memang tidak punya akses ke bimbel, tidak ada biaya untuk membayarnya dan hanya mengandalkan pelajaran dari sekolah?

Related Posts