Beberapa hari terakhir media masa ramai dengan pemberitaan mengenai seorang pejabat pajak yang terseret menjadi tersangka korupsi dan gratifikasi dan akhirnya menjadi pasien KPK. Konon kekayaan pejabat ini ratusan milyar yang tersebar dalam berbagai bentuk property maupun usaha, baik itu apartemen, rumah, restoran maupun rumah kost.

nah, awal mula pejabat ini diperiksa bukan karena dia tertangkap basah karena korupsi atau melakukan kegiatan yang diduga melanggar hukum, tapi justru karena tingkah polah anaknya yang berurusan dengan hukum. Anaknya melakukan tindakan penganiayaan kepada orang lain yang mengakibatkan korban mengalami keadaan koma  yang cukup lama. Keluarga korbanpun melaporkan dan membawa kasus ini ke jalur hukum.

Dari sinilah kemudian pelaku ditelusuri sampai dengan latar belakang keluarganya. Sifatnya yang hedon yang sering di tunjukkan melalui media sosialnya, sering memamerkan barang-barang mewahnya menunjukkan bahwa sudah pasti dia dari kalangan orang berada. Dan memang, pada akhirnya terungkap bahwa bapak dari pelaku tersebut seorang yang memiliki jabatan penting di instansi tempat bekerjanya..

Dari proses hukum inilah yang justru menjadi titik awal dirinya terseret ke ranah hukum.  kekayaan yang melimpah dengan nilai ratusan milyar itulah yang di tengarai di peroleh dari hal yang tidak wajar saat dia menjabat. Selain berurusan dengan KPK, dirinya pun harus hancur karirnya.

Sementara berita lain,  juga ada seorang perwira polisi yang harus terseret ke ranah hukum karena ulah anaknya. Anaknya menghajar temannya sampai babak belur. Dan mirisnya saat kejadian  sang polisi ini justru terkesan membiarkan anaknya menganiaya dan seolah malah mendukungnya dan membela anaknya, bukan malah melerai atau membuka ruang damai diantara keduanya.

apakah cukup sampai situ, ternyata tidak, sebagaimana kasus pertama, penelusuran akhirnya membuka latar belakang orang tuanya, jabatan maupun kekayaannya, di tambah dengan kehidupan mewahnya yang suka di pamerkan di media sosial membuat dirinya dicurigai terkait dengan kekayaan yang dimilikinya sehingga akhirnya si polisi yang sejatinya selama ini mengerti dan menjalankan bagaimana hukum ditegakkan, justru menjadi pasien hukum itu sendiri.

Contoh diatas adalah sebagian kecil, dari mungkin banyak kejadian yang ada dalam kehidupan sehari-hari. mungkin sebagian dalam skala kecil sehingga tidak begitu menyita perhatian publik. beberapa kasus melibatkan orang orag besar, mereka yang harusnya lebih berperan aktif dalam aturan dan hukum di negara ini , sehingga kejadian yang menimpa mereka cukup menjadi perhatian dan berita.

Menarik memang, dua contoh kejadian di atas terkuak di mulai dari perilaku anak. Perilaku anak yang tidak terkendali yang kemudian menyeret orang tuanya. mirisnya, anaklah yang merasa besar karena jabatan dan kekayaan orang lain, merasa mempunyai power yang bisa berbuat sebebasnya. yang terjadi akhirnya berbuat sewenang–wenang. toh kalau ada masalah pasti beres, atau setidaknya orang tua lah yang akan membereskannya. Sehingga sifat angkuh, sombong, merasa kuasa sudah dipunyai anak sejak dini. itu terjadi karena kebutuhan dan kepentingan si anak selalu terpenuhi dengan dukungan penuh dari orang tuanya.

Orang tuanya yang terlalu sibuk dengan dengan urusannya, seringkali lupa bagaimana ia juga seharusnya menjadi contoh dan teladan bagi keluarga, khususnya anak-anak. interaksi yang terjadi dengan anak justru lebih ke arah pemenuhan kebutuhan dan keinginan si anak, tanpa tahu bagaimana perkembangan mental dan kedewasaan anak. sikap terlalu memanjakan anak, seringkali menjadi buah simalakama bagi orang tua. pada akhirnya tingkah polah anak yang di luar batas, menjadikan kesulitan dan masalah sendiri bagi bapaknya. Anak Polah Bapak Kepradah. 

Anak Polah Bapak Kepradah



Beberapa hari terakhir media masa ramai dengan pemberitaan mengenai seorang pejabat pajak yang terseret menjadi tersangka korupsi dan gratifikasi dan akhirnya menjadi pasien KPK. Konon kekayaan pejabat ini ratusan milyar yang tersebar dalam berbagai bentuk property maupun usaha, baik itu apartemen, rumah, restoran maupun rumah kost.

nah, awal mula pejabat ini diperiksa bukan karena dia tertangkap basah karena korupsi atau melakukan kegiatan yang diduga melanggar hukum, tapi justru karena tingkah polah anaknya yang berurusan dengan hukum. Anaknya melakukan tindakan penganiayaan kepada orang lain yang mengakibatkan korban mengalami keadaan koma  yang cukup lama. Keluarga korbanpun melaporkan dan membawa kasus ini ke jalur hukum.

Dari sinilah kemudian pelaku ditelusuri sampai dengan latar belakang keluarganya. Sifatnya yang hedon yang sering di tunjukkan melalui media sosialnya, sering memamerkan barang-barang mewahnya menunjukkan bahwa sudah pasti dia dari kalangan orang berada. Dan memang, pada akhirnya terungkap bahwa bapak dari pelaku tersebut seorang yang memiliki jabatan penting di instansi tempat bekerjanya..

Dari proses hukum inilah yang justru menjadi titik awal dirinya terseret ke ranah hukum.  kekayaan yang melimpah dengan nilai ratusan milyar itulah yang di tengarai di peroleh dari hal yang tidak wajar saat dia menjabat. Selain berurusan dengan KPK, dirinya pun harus hancur karirnya.

Sementara berita lain,  juga ada seorang perwira polisi yang harus terseret ke ranah hukum karena ulah anaknya. Anaknya menghajar temannya sampai babak belur. Dan mirisnya saat kejadian  sang polisi ini justru terkesan membiarkan anaknya menganiaya dan seolah malah mendukungnya dan membela anaknya, bukan malah melerai atau membuka ruang damai diantara keduanya.

apakah cukup sampai situ, ternyata tidak, sebagaimana kasus pertama, penelusuran akhirnya membuka latar belakang orang tuanya, jabatan maupun kekayaannya, di tambah dengan kehidupan mewahnya yang suka di pamerkan di media sosial membuat dirinya dicurigai terkait dengan kekayaan yang dimilikinya sehingga akhirnya si polisi yang sejatinya selama ini mengerti dan menjalankan bagaimana hukum ditegakkan, justru menjadi pasien hukum itu sendiri.

Contoh diatas adalah sebagian kecil, dari mungkin banyak kejadian yang ada dalam kehidupan sehari-hari. mungkin sebagian dalam skala kecil sehingga tidak begitu menyita perhatian publik. beberapa kasus melibatkan orang orag besar, mereka yang harusnya lebih berperan aktif dalam aturan dan hukum di negara ini , sehingga kejadian yang menimpa mereka cukup menjadi perhatian dan berita.

Menarik memang, dua contoh kejadian di atas terkuak di mulai dari perilaku anak. Perilaku anak yang tidak terkendali yang kemudian menyeret orang tuanya. mirisnya, anaklah yang merasa besar karena jabatan dan kekayaan orang lain, merasa mempunyai power yang bisa berbuat sebebasnya. yang terjadi akhirnya berbuat sewenang–wenang. toh kalau ada masalah pasti beres, atau setidaknya orang tua lah yang akan membereskannya. Sehingga sifat angkuh, sombong, merasa kuasa sudah dipunyai anak sejak dini. itu terjadi karena kebutuhan dan kepentingan si anak selalu terpenuhi dengan dukungan penuh dari orang tuanya.

Orang tuanya yang terlalu sibuk dengan dengan urusannya, seringkali lupa bagaimana ia juga seharusnya menjadi contoh dan teladan bagi keluarga, khususnya anak-anak. interaksi yang terjadi dengan anak justru lebih ke arah pemenuhan kebutuhan dan keinginan si anak, tanpa tahu bagaimana perkembangan mental dan kedewasaan anak. sikap terlalu memanjakan anak, seringkali menjadi buah simalakama bagi orang tua. pada akhirnya tingkah polah anak yang di luar batas, menjadikan kesulitan dan masalah sendiri bagi bapaknya. Anak Polah Bapak Kepradah. 

Related Posts