hardie |
Jika Anda sering bepergian jauh menggunakan moda transportasi darat, dengan bus misalnya, maka selama perjalanan biasanya bus akan beristirahat sebentar. Selain agar sang sopir bisa beristirahat sejenak juga memberi kesempatan kepada penumpang untuk turun sebentar, meregangkan otot-otot yang beberapa lama dalam posisi duduk, selain tentu saja penumpang bisa membeli makan atau jajanan. Umumnya sebagian besar penumpang akan turun, apalagi untuk bus-bus yang sudah punya “nama” dari perusahaan bus besar, juga menyarankan semua penumpang untuk turun, karena umumnya akan dilakukan pengecekan bus secara singkat, maupun pembuangan kotoran untuk bis yang yang dilengkapi toilet.
Untuk bus dari perusahaan otomotof lain, biasanya akan berhenti di tempat istirahat ( rest area) umum, dimana akan banyak sekali bus dari berbagai perusahaan yang berisitirahat di sana. tetapi kalau dari perusahaan bus besar biasanya mereka sudah memiliki rest area sendiri. Rest area yang cukup luas, karena menampung banyak bus yang parkir beristirahat, selain itu di tempat itu juga dilengkapi restoran, yang sekelilingnya banyak penjual jajanan atau bahkan minimarket termasuk mushola yang umumnya ramai orang menjalankan sholat yang waktunya tidak memungkinkan di jangkau selama perjalanan. Tapi ada satu fasilitas dari rest area ini yang yang hampir sebagian besar penumpang memanfaatkannya, dan fasilitas itu adalah toilet.
Termasuk saya, manakala saya menggunakan transportasi bus ini, hampir tidak pernah absen saya menggunakan toilet, meski bus yang saya naiki juga di lengkapi toilet tapi serasa tidak nyaman saja buang air kecil di toilet bus. Tempat yang kecil dan goncangan saat bus melaju benar-benar tidak nyaman. tentu beda kalau kita naik kereta, yang nyaman-nyaman saja menggunakan toiletnya, jadi saat bus berhenti istirahat saya menyempatkan ke toilet yang berada di rest area tersebut. Saking banyaknya toilet yang ada, iseng-iseng saya pernah menghitungnya, dan ternata ada lebih dari 100 bilik toilet. rata-rata toilet jongkok tetapi sebagian sudah menggunakan toilet duduk, dan diluar berderet wall hang urinal ( tempat buang air kecil yang di tempel dinding)
Dan saya perhatikan tidak sedikit penumpang yang turun kemudian tujuan utama adalah toilet, sebagian besar atau hampir semua penumpang pasti akan menyempatkan ke toilet ini. pernah dalam kondisi yang sangat ramai saya sempat mengantri agak lama untuk sekedar bisa buang air kecil, padahal jumlah toilet sudah sangat banyak, tapi masih mengantri juga. biasanya ini terjadi kalau akhir minggu, belum lagi kalau waktu musim mudik. wah, tambah panjang antrian tersebut. Boleh dikatakan 80-90% penumpang bus akan menuju toilet.
Apakah toilet yang digunakan penumpang itu gratis ?, tentu saja tidak. Ada “biaya kebersihan” yang harus dibayarkan penumpang, di pintu masuk area toilet akan ada petugas dan kotak pengumpul uang tersebut. Setelah membuang hajat, penumpang membayar 2000 rupiah biaya kebersihan tadi. Kotak yang besar itu sepertinya sudah penuh dengan uang 2000-an. Tempat duduk di bus memang jumlahnya bervariasi, tergantung kelas busnya, ada executive, ada kelas bisnis, ada kelas ekonomi tergantung perusahaan bus tersebut menamai kelasnya, yang umumnya sesuai dengan layanan yang diterima penumpang termasuk kelegaan di dalam kabin. makin ke atas maka kursi penumpang makin sedikit, tapi kalau di ambil rata-rata jumlah kursi adalah 40, dan jumlah penumpang yang turun mampir ke toilet 30 orang saja, maka sudah didapatkan uang kebersihan 60.000 Rupiah dari satu bus saja.Jumlah bus pun sangat banyak, untuk perusahaan transportasi yang besar, ada ratusan bus, tapi andai 50 bus saja berhenti di rest area tersebut , maka sudah didapatkan biaya kebersihan 3.000.000 ( Tiga Juta Rupiah).
Untuk perusahaan bus besar, mereka mengepakkan sayap bisnisnya, bikin pom bensin, sehingga setidaknya bus-bus bisa mengisi bahan bakarnya di tempat sendiri, juga rest area yang sudah punya milik sendiri, di sana ada restaurant, minimarket di bawah naungan bisnisnya dan lain-lain dimana mereka tidak hanya mendapat keuntungan dari sisi transportasi saja tetapi dari produk dan jasa-jasa lain. dan tak ketinggalan adalah keberadaan toilet. bisa dikatakan toilet adalah bisnis sanitasi perusahaan transportasi. Ketika saya memperhatikan banyaknya jumlah toilet yang tersedia, saya berpikir bahwa ini bukanlah layanan cuma-cuma. ada keuntungan yang cukup besar di baliknya. Apalagi untuk jarak perjalanan menengah biasanya bus akan berhenti 2 kali. Kalau dihitung hitung, dalam jangka waktu tertentu, uang toilet yang terkumpul bisa untuk membeli bus baru. Bus dari air kencing penumpang.
