“Kita ini belum merdeka mas, lihat aja di sekeliling kita, masih banyak orang-orang terlunta, kehidupan ekonomi juga begini-begini saja,” demikian celoteh teman ketika kami sedang mengobrol mempersiapkan acara agustusan. Obrolan yang panjang layaknya pepesan kosong, sampai kemudian tercetus kalimat tersebut. Konon kemerdekaan harusnya tidak seperti ini, kemerdekaan adalah ketika semua warga sudah berkecukupan semua, sudah tidak ada lagi yang berkekurangan, tidaka ada lagi yang kesusahan. Demikian dia menambahkan. Saya sendiri kurang tahu, apa dia sedang berbicara mewakili masyarakat pada umumnya atau hanya mengeluh mengenai keadaan dirinya sendiri, khususnya keadaan ekonominya. Saya maklum, sering kalai saya menemui mereka, orang-orang yang mempunyai pendapat seperti ini. Kemerdekaan bangsa yang belum menyentuh dan berimbas ke kemerdekaan dirinya. Dan dalam kondisi sekarang ini, dia masih harus “berjuang”.

Tentu, perjuangan sekarang berbeda dengan perjuangan para pendahulu, jika para pendahulu berjuang demi hal yang besar, yaitu kemerdekaan suatu bangsa, tidak menjadi koloni dan jajahan bangsa lain, tidak menjadi budak dan pekerja paksa dan demi mempertahankan kekayaan dan sumber daya alam di keruk si penjajah. Perjuangan para pahlawan kita adalah perjuangan fisik yang mengorbankan jiwa raganya. Pilihan hanya ada dua hidup atau tertembak, merdeka atau mati. Sehingga cerita-cerita heroik tentang hebatnya bambu runcing mengalahkan tank masih terngiang sampai sekarang.

Para pejuang dahulu berharap agar anak cucunya bisa bebas. Bebas mengatur negaranya sendiri, tidak terkekang dan dikendalikan bangsa lain. Mereka rela menderita dan prihatin untuk satu tujuan. Tujuan mereka adalah mewujudkan kondisi Negara ideal untuk kehidupan penerusnya. Dan mereka telah menggapainya yaitu dengan kemerdekaan Negara ini. Dan perjuangan kita saat ini adalah dengan mengisinya, jika kehidupan kita saat ini memang di rasa sudah berkecukupan, tentu salah satu perjuangannya adalah membantu saudara yang lain. Jika kondisi keadaan anda sekarang ini belumlah ideal, entah dari sisi ekonomi atau dari sisi pencapaian lain yang belum optimal, setidaknya telah tercipta lingkungan yang bebas dimana anda masih bisa mewujudkannya tanpa harus terkekang.

Memang kalau dalam perjuangan merebut kemerdekaan dahulu, mereka bekerjasama untuk satu tujuan. Tidak di nafikkan, bahwa sekarang lebih banyak kita berjuang demi tujuan kita masing-masing. Bagi seorang politikus tentu berbeda jalan perjuangannya dengan seorang petani, seorang petani berbeda perjuangannya dengan seorang pegawai pemerintah, berbeda pula dengan seorang karyawan. Hanya memang seringkali banyak yang lupa dengan inti perjuangannya. Ada yang lupa yang akhirnya mengambil jalur lain, jalur yang salah. Seseorang yang ditugaskan untuk memegang amanah, kemudian berkhianat. Ketika kita sering mendengar atau membaca berita, mereka-mereka yang berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), itulah mereka yang seringkali mengambil peran ganda yang keliru dan bertolak belakang. Harusnya jadi pejabat yang bersih, tetapi seringkali jadi koruptor.

Pada akhirnya perjuangan untuk tujuan masing-masing itulah yang kemudian menimbulkan sifat egois dan tamak bagi sebagian orang, karena menganggap kalau tidak melakukan hal yang salah tersebut mereka tidak dapat apa-apa, toh yang lain melakukan juga. Sehingga kalau tidak ikut edan, nggak keduman (mendapatkan). Mereka menganggap orang lain adalah pesaing. Apalagi di tengah gaya hidup hedonism seperti sekarang ini, kalau tidak ikut trend dan gaya hidup akan ditinggalkan. Miris, jika yang berkelakuan demikian ustru mereka yang harusnya menjadi panutan. Memang tidak semua, hanya oknum-oknum tertentu.
Bagi rakyat biasa seperti teman saya tadi, bisa hidup tenang, bisa makan, bisa menyekolahkan anak, ada tempat tinggal yang menghindarkan dia dan keluarganya dari kepanasan dan kehujanan sudah menjadi kemerdekaan tersendiri. Tidak terburu-buru, tidak takut dikejar-kejar kebutuhan hidup, bahkan tidak harus main petak umpet dengan penagih hutang. Sehingga dia sendiri ikut miris melihat berita-berita orang yang sedang bermasalah dengan jabatannya karena godaan gelimang uang membandingkan dirinya yang sedang kekurangan.

Kita memang tidak tinggal di Dubai, Uni Emirat Arab, yang konon warga lokalnya memperoleh jaminan kehidupan sampai tua. Tidak pusing lagi memikirkan urusan perut, tidak cemas lagi perihal biaya pendidikan, tidak bingung lagi mencari tempat berlindung, semua sudah di jamin Negara bahkan sampai dengan matinya. Sebagai Negara yang sangat kaya, dan penduduknya yang tidak terlalu banyak, membuat sistem tersebut bisa dibentuk di sana. Dan bisa jadi pemangku kepentingan di sana di isi juga oleh mereka yang amanah.

Tapi begitulah, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Bangsa kita mempunyai problematikanya sendiri yang tentu beda dengan Negara lain. Apapun itu kita harus bersyukur, setidaknya kesempatan untuk hidup nyamanpun masih ada. Masih punya kesempatan berjuang untuk diri sendiri. Bebas tanpa harus terkekang. Jika sudah ada peran khusus yang telah disematkan, berjuanglah dengan peran itu. Yang jadi pejabat, bertanggungjawablah dengan amanat yang di emban, yang jadi polisi, jadilah petugas yang mengayomi. Yang jadi pedagang, jadilah pedagang yang jujur. Apapun peran anda, mulailah berkontribusi positif di negeri ini. Jika anda masih berpangku tangan, bergeraklah. Karena sangat mungkin kehidupan kita yang tidak baik, karena kita tidak bergerak dan tidak berkontribusi. Dan sekarang ini, kitalah pejuangnya. Jika kita tidak bisa berjuang untuk Negara, berjuanglah untuk kebaikan masyarakat di sekelilingmu, jikapun masih tidak bisa berjuanglah untuk kebaikan keluargamu, jika itupun masih tidak bisa berjuanglah untuk kebaikan dirimu. Jadilah pejuang. Setiap masa ada pahlawan, setiap pahlawan ada masanya.

Setiap Masa Ada Perjuangannya, Setiap Perjuangan Ada Masanya

“Kita ini belum merdeka mas, lihat aja di sekeliling kita, masih banyak orang-orang terlunta, kehidupan ekonomi juga begini-begini saja,” demikian celoteh teman ketika kami sedang mengobrol mempersiapkan acara agustusan. Obrolan yang panjang layaknya pepesan kosong, sampai kemudian tercetus kalimat tersebut. Konon kemerdekaan harusnya tidak seperti ini, kemerdekaan adalah ketika semua warga sudah berkecukupan semua, sudah tidak ada lagi yang berkekurangan, tidaka ada lagi yang kesusahan. Demikian dia menambahkan. Saya sendiri kurang tahu, apa dia sedang berbicara mewakili masyarakat pada umumnya atau hanya mengeluh mengenai keadaan dirinya sendiri, khususnya keadaan ekonominya. Saya maklum, sering kalai saya menemui mereka, orang-orang yang mempunyai pendapat seperti ini. Kemerdekaan bangsa yang belum menyentuh dan berimbas ke kemerdekaan dirinya. Dan dalam kondisi sekarang ini, dia masih harus “berjuang”.

Tentu, perjuangan sekarang berbeda dengan perjuangan para pendahulu, jika para pendahulu berjuang demi hal yang besar, yaitu kemerdekaan suatu bangsa, tidak menjadi koloni dan jajahan bangsa lain, tidak menjadi budak dan pekerja paksa dan demi mempertahankan kekayaan dan sumber daya alam di keruk si penjajah. Perjuangan para pahlawan kita adalah perjuangan fisik yang mengorbankan jiwa raganya. Pilihan hanya ada dua hidup atau tertembak, merdeka atau mati. Sehingga cerita-cerita heroik tentang hebatnya bambu runcing mengalahkan tank masih terngiang sampai sekarang.

Para pejuang dahulu berharap agar anak cucunya bisa bebas. Bebas mengatur negaranya sendiri, tidak terkekang dan dikendalikan bangsa lain. Mereka rela menderita dan prihatin untuk satu tujuan. Tujuan mereka adalah mewujudkan kondisi Negara ideal untuk kehidupan penerusnya. Dan mereka telah menggapainya yaitu dengan kemerdekaan Negara ini. Dan perjuangan kita saat ini adalah dengan mengisinya, jika kehidupan kita saat ini memang di rasa sudah berkecukupan, tentu salah satu perjuangannya adalah membantu saudara yang lain. Jika kondisi keadaan anda sekarang ini belumlah ideal, entah dari sisi ekonomi atau dari sisi pencapaian lain yang belum optimal, setidaknya telah tercipta lingkungan yang bebas dimana anda masih bisa mewujudkannya tanpa harus terkekang.

Memang kalau dalam perjuangan merebut kemerdekaan dahulu, mereka bekerjasama untuk satu tujuan. Tidak di nafikkan, bahwa sekarang lebih banyak kita berjuang demi tujuan kita masing-masing. Bagi seorang politikus tentu berbeda jalan perjuangannya dengan seorang petani, seorang petani berbeda perjuangannya dengan seorang pegawai pemerintah, berbeda pula dengan seorang karyawan. Hanya memang seringkali banyak yang lupa dengan inti perjuangannya. Ada yang lupa yang akhirnya mengambil jalur lain, jalur yang salah. Seseorang yang ditugaskan untuk memegang amanah, kemudian berkhianat. Ketika kita sering mendengar atau membaca berita, mereka-mereka yang berurusan dengan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), itulah mereka yang seringkali mengambil peran ganda yang keliru dan bertolak belakang. Harusnya jadi pejabat yang bersih, tetapi seringkali jadi koruptor.

Pada akhirnya perjuangan untuk tujuan masing-masing itulah yang kemudian menimbulkan sifat egois dan tamak bagi sebagian orang, karena menganggap kalau tidak melakukan hal yang salah tersebut mereka tidak dapat apa-apa, toh yang lain melakukan juga. Sehingga kalau tidak ikut edan, nggak keduman (mendapatkan). Mereka menganggap orang lain adalah pesaing. Apalagi di tengah gaya hidup hedonism seperti sekarang ini, kalau tidak ikut trend dan gaya hidup akan ditinggalkan. Miris, jika yang berkelakuan demikian ustru mereka yang harusnya menjadi panutan. Memang tidak semua, hanya oknum-oknum tertentu.
Bagi rakyat biasa seperti teman saya tadi, bisa hidup tenang, bisa makan, bisa menyekolahkan anak, ada tempat tinggal yang menghindarkan dia dan keluarganya dari kepanasan dan kehujanan sudah menjadi kemerdekaan tersendiri. Tidak terburu-buru, tidak takut dikejar-kejar kebutuhan hidup, bahkan tidak harus main petak umpet dengan penagih hutang. Sehingga dia sendiri ikut miris melihat berita-berita orang yang sedang bermasalah dengan jabatannya karena godaan gelimang uang membandingkan dirinya yang sedang kekurangan.

Kita memang tidak tinggal di Dubai, Uni Emirat Arab, yang konon warga lokalnya memperoleh jaminan kehidupan sampai tua. Tidak pusing lagi memikirkan urusan perut, tidak cemas lagi perihal biaya pendidikan, tidak bingung lagi mencari tempat berlindung, semua sudah di jamin Negara bahkan sampai dengan matinya. Sebagai Negara yang sangat kaya, dan penduduknya yang tidak terlalu banyak, membuat sistem tersebut bisa dibentuk di sana. Dan bisa jadi pemangku kepentingan di sana di isi juga oleh mereka yang amanah.

Tapi begitulah, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya. Bangsa kita mempunyai problematikanya sendiri yang tentu beda dengan Negara lain. Apapun itu kita harus bersyukur, setidaknya kesempatan untuk hidup nyamanpun masih ada. Masih punya kesempatan berjuang untuk diri sendiri. Bebas tanpa harus terkekang. Jika sudah ada peran khusus yang telah disematkan, berjuanglah dengan peran itu. Yang jadi pejabat, bertanggungjawablah dengan amanat yang di emban, yang jadi polisi, jadilah petugas yang mengayomi. Yang jadi pedagang, jadilah pedagang yang jujur. Apapun peran anda, mulailah berkontribusi positif di negeri ini. Jika anda masih berpangku tangan, bergeraklah. Karena sangat mungkin kehidupan kita yang tidak baik, karena kita tidak bergerak dan tidak berkontribusi. Dan sekarang ini, kitalah pejuangnya. Jika kita tidak bisa berjuang untuk Negara, berjuanglah untuk kebaikan masyarakat di sekelilingmu, jikapun masih tidak bisa berjuanglah untuk kebaikan keluargamu, jika itupun masih tidak bisa berjuanglah untuk kebaikan dirimu. Jadilah pejuang. Setiap masa ada pahlawan, setiap pahlawan ada masanya.

Related Posts