hardie |
” Enak jadi pengusaha lho, bebas waktu, bebas uang, gak kena macet, hidup kita atur sendiri…”, kurang lebih begitu kata-kata manis dari salah satu kolegaku. ya, dia baru membuka usaha, satu jenis usaha yang sudah diinginkan sejak lama. dimana dia juga sudah merasa jenuh dengan kondisi dan lingkungan pekerjaannya. Dia berharap dengan membuka usaha sendiri maka semua problem yang dia hadapi entah itu problem keuangan ataupun keterbatasan waktu dengan keluarga akan teratasi.
Aku yang mendengar dia berbicara begitu tersenyum kecut, bukan apa-apa, tetapi karena aku sudah pernah punya pengalaman membuka usaha, dan saat inipun masih ada usaha yang dijalankan. dan banyak pengalaman yang aku dapat dimana membuka usaha tidak segampang sebagaimana apa yang di katakannya. Enaknya tentu ada, tetapi sejatinya lebih banyak tidak enaknya, apalagi di saat awal-awal buka usaha. banyak hal yang harus dipersiapkan, banyak hal yang harus dilakukan, tidak tiba-tiba kita langsung jadi bos.
Membuka usaha di saat awal-awal memerlukan daya tahan, katakanlah kita membuka toko, maka jangan harap pada awal dibuka toko langsung laris. untuk mendatangkan pembeli perlu waktu. bisa jadi seminggu dua minggu belum ada pembeli, sebulan satu dua pembeli sudah mulai datang, itupun masih kelihatan coba-coba. kelak jika mereka merasa membeli di toko kita lebih menguntungkan baru mungkin mereka akan jadi pelanggan, tetapi sekali lagi proses ke arah sana akan memerlukan waktu.
Jika usaha kita dalam bidang kuliner, perlu berpikir kencang lagi, karena akan banyak jualan yang tersisa. jika kita punya bujet untuk marketing kita bisa memanfaatkan itu. entah memanfaatkan kanal sosial media atau media yang lainnya, baik online atau offline, saya pernah melihat usaha makanan mie yang baru di buka dan seminggu sampai sebulan pertama sangat ramai, banyak sekali anak-anak muda di sana, bahkan kalau mau pesan terpaksa harus antri dulu. pada awalnya aneh juga, baru di buka udah sangat laris. Tetapi setelah beberapa bulan, saya lihat hanya satu dua pelanggan yang ada di warung tersebut. selidik punya selidik, ternyata pada saat awal buka, si pemilik warung sudah mengupah beberapa anak muda untuk selalu nongkrong di warungnya. Gak masalah juga, namanya juga metode marketing, tentu harapan pemilik ke depan akan senantiasa ramai saat mulai buka.
Buka usaha saat awal tidak mudah, banyak hal yang harus dipelajari. ketika kita jadi karyawan, kita hanya fokus pada bagian yang kita kerjakan sesuai job desc kita, misal kita di bagian HRD tidak perlu kita memikirkan urusan finansial. tetapi ketika kita buka usaha lain lagi ceritanya, apalagi masih skala kecil usahanya dan belum siap untuk merekrut karyawan khusus, maka semua urusan mau nggak mau harus terlibat, kita harus mengenal produk, kita juga harus memahami keuangan, dan setidaknya kita harus tahu marketing dan terlibat langsung dalam menghadapi pelanggan. Kita akan lebih capai dari saat kita jadi karyawan. bahkan kalaupun kita sudah mulai mempekerjakan karyawan sendiri, kita tidak bisa lepas tangan langsung. proses pendelegasian pekerjaan perlu waktu dan pengawasan pada karyawan mutlak dilakukan tidak serta merta kita harus percaya langsung kepada karyawan.
Jadi pengusaha harus siap tahan banting. dan jangan tergiur untuk menggunakan uang tersebut untuk keperluan lain apalagi berfoya-foya jika sewaktu-waktu mendapatkan uang banyak misal karena orderan yang melimpah. karena namanya usaha ada masa dimana orderan sangat sepi, sehingga pemasukan berkurang atau terkadang malah tidak ada sama sekali. Manajemen keuangan sangat penting di sini, termasuk pengetahuan tentang arus kas. Pendapatan yang diterima, masih harus dikurangi berbagai biaya untuk mendapat keuntungan atau profit. Biaya yang harus dikeluarkan banyak, entah itu biaya transportasi, biaya listrik, gaji karyawan atau biaya sewa jika tempat usaha kita masih menyewa. baru setelah semua biaya keluar, maka keuntungan bisa di dapat. itupun tidak serta merta bisa digunakan pemilik. karena tetaplah harus mempunyai cadangan untuk mengantisipasi kenaikan harga produk maupun pengembangan usaha ke depannya. Sebagai pengusaha, maka sewajarnya ia yang terakhir mendapatkan bagian keuntungan.
Lalu sebagai karyawan apa tidak boleh kita buka usaha ?, jelas boleh, hanya buka usaha kadang tidak segampang yang di ucapkan orang, apalagi oleh mereka yang belum pernah merasakan jatuh bangun dalam mempertahankan usahanya. Tetap diperlukan persiapan matang tidak asal action. Jika memang masih memungkinkan usaha dilakukan dengan sembari bekerja, dan asal itu tidak mengganggu pekerjaannya. Silakan saja dilakukan. saya menyebutnya metode amfibi. Fokuslah ke pangsa pasar dulu. tetapi kelemahannya fokus kita akan terbagi, antara pekerjaan dan usaha. Jika memang diputuskan akan keluar dari karyawan dan fokus ke usaha, pastikan Anda siap dengan dana cadangan, ingat buka usaha tidak serta merta langsung berjalan lancar, tetapi di sisi lain biaya hidup mau tidak mau harus keluar.
