Aku, Dompet dan Pesawat

Saat itu, beberapa tahun yang lalu, saya ditugaskan dari kantor untuk kegiatan pekerjaan di Makassar, kegiatan di daerah adalah kegiatan yang rutin bagi kami. Sehingga cukup sering saya berkesempatan berkunjung ke daerah.

Tidak ada yang aneh saat saya berangkat, biasanya saya berangkat ke Bandara Sukarno Hatta dengan menggunakan bus Damri yang shelternya di area sekitar stasiun Gambir atau sesekali waktu memesan taksi yang sebelumnya harus saya telepon ke operatornya, saat itu belum ada aplikasi online seperti sekarang.


Pagi itu di Bandara cukup ramai, terminal dalam negeri ramai hiruk pikuk aktivitas . setelah check in. kalau masih ada waktu terkadang saya ke Garuda Lounge untuk sekedar ngopi pagi dan menikmati snack dan cemilan, tapi saya lupa saat itu saya mampir ke sini atau tidak. dan biasanya setelah waktu kurang dari 20 menitan saya sudah ke ruang tunggu boarding.

Singkat cerita setelah boarding, saya bergerak mengikuti antrian masuk pesawat sampai kemudian sampai di seat pilihan saya saat check in, seingat saya seat ada di kelompok nomor bagian tengah, sisi paling pinggir, ketika melongok keluar bentangan sayap pesawat adalah pandangan utama.

Hampir semua penumpang sudah duduk . dimana sang pramugari yang parasnya menawan juga sudah mulai menyampaikan tata cara penyelematan diri atau ada hal-hal mendadak dan terjadi sesuatu dalam pesawat, seperti pemakaian sabuk pengaman, masker udara maupun pelampung . ….tapi entah kenapa pesawat masih belum bergerak juga. Cukup lama.

Beberapa penumpang sudah mulai bertanya-tanya. Saya juga berpikir apa ada gangguan dalam pesawat, atau menunggu antrian pesawat lain, atau menunggu penumpang VIP atau ada alasan lain, mungkin ada 15 menitan, sampai kemudian beberapa crew mendatangi tempat duduk saya.

” Betul dengan pak Hardiyanto,” Tanya salah seorang crew mencoba mengkonfirmasi ke saya, yang tentu mereka melihat dari daftar manifest yang mereka pegang, Saya tidak spontan menjawab. Entahlah..tiba-tiba terpikir seperti ada yang salah, ada apa ini, apa ada kesalahan yang saya buat. Dan para penumpang lainpun sudah mengarahkan matanya ke saya..duh, beberapa sudah mulai menyorot dengan tajam, entah apa yang ada dalam benak spontan mereka

”iya betul “, jawab saya. ” boleh lihat boarding pass Bapak,” dia melanjutkan. Dengan seksama diapun mengecek boarding pass yang saya serahkan sambil bergumam ke rekannya seakan menegaskan sesuatu. Kemudian dia mengambil sesuatu dari sakunya, benda yang bagi saya sangat familiar. Sambil menyerahkan kembali boarding pass saya, dia melanjutkan ,” maaf pak Hardi, dompet Bapak ketinggalan, silahkan di cek dulu,” lanjutnya.

Sesaat setelah pesawat take off, saya memejamkan mata, tapi bukan tidur tapi lebih karena menghindari tatapan penumpang lain yang sesekali masih melihat ke arah saya…

Isi dompet itu penting bagi saya selain kartu identitas, beberapa ATM, uang dan selembar kertas untuk saya tunjukkan ke resepsionis hotel sebagai bukti check in dari Jakarta dan garansi dari tempat saya bekerja.

Saya masih bertanya-tanya mengapa dompet saya ketinggalan, dimana ketinggalannya, apakah jatuh begitu saja dari kantong celana. Atau mungkin di toilet yang ada di bawah ruang tunggu boarding, dan saat itu saya terburu-buru. Entahlah, semoga siapapun dia, pemilik hati baik yang menyelamatkan hari saya saat itu akan di balas dengan kebaikan dan keberkahan dariNya. Dan Alhamdulillah, kegiatan saya di Makassar berjalan baik sampai kembali ke Jakarta.

Related Posts