hardie |
Kalau bisa dibandingkan, sampah apa yang mendominasi di tempat sampah. Mungkin bisa dikatakan sampah plastik adalah rajanya. Di tempat sampah manapun yang saya temui, tidak pernah ada yang bebas dari sampah plastik. Selalu terlihat dominan baik yang berserakan ataupun yang menggunung, dibanding sampah-sampah jenis lain.
Terkadang saya pergi ke pasar, belanja sayur menemani istri dan membeli jajan pasar. Selalu saja pulangnya membawa banyak tentengan, rata-rata lebih dari 5 kantong plastik. Tergantung berapa tempat lapak yang saya singgahi, terkadang satu lapak tidak hanya satu kantong plastik, jika pembelian banyak sudah pasti lebih dari satu kantong plastik, mungkin bisa saja cuma satu kantong plastik besar tetapi ketika di rasa belanjaanya berat, pedagang dengan baik hati menawarkan plastik dobelnya, biar kuat dan tidak sobek katanya. Jadi sama saja akhirnya dapat dua kantong plastik, dan itu dari satu lapak saja. Belum kita pindah ke lapak sayur, lapak ayam, kios rempah dan bumbu, beli jajan, dan sebagainya, sudah berapa plastik kita bawa pulang. plastik seperti jadi barang konsumsi sehari-hari.
Saya masih ingat, dulu semasa saya masih kecil, nenek saya adalah penjual kopi keliling, kopi tubruk yang di sangrai dan digiling sendiri, kopinya dipanen dari kebun sendiri. Kalau pagi beliau berjualan di pasar desa, kopinya sudah dikemas kecil-kecil, dan bungkus kopi tersebut adalah dari daun pisang kering, kami menyebutnya klaras. Tiap bungkus kopi bisa dipakai untuk 2-3 kali seduh. Entahlah..kenapa nenek saya dulu menggunakan bungkus daun kering untuk kopinya, bukan plastik. ,mungkin kantong plastik masih jarang saat itu, atau harus keluar biaya lagi untuk mendapatkannya, atau plastik menjadikan rasa kopi berubah…entahlah.
Demikian juga dengan jajanan pasar yang lain, rata-rata dibungkus dengan daun. Tapi saat ini sulit sekali mencari makanan yang tidak dibungkus dengan pembungkus selain plastik. Lontong yang dulu dibungkus daun pisang dan ketupat yang dulu dibungkus dari daun kelapa muda, kini sudah menjadi lontong dan ketupat dengan bungkus plastik. Tidak semua memang, tapi sebagian besar sepertiinya sudah seperti itu, dengan pembungkus plastik, mungkin lebih praktis dan murah.
Juga belanja di warung-warung atau minimarket misalnya, minimal kita dapat satu kantong plastik. Belum dengan plastik-plastik kemasan dari produk yang kita beli. Andaikan kita beli minuman botol kemasan, makanan ringan, dan lain-lain. Apa itu bukan plastik semua ?. Memang dulu pernah ada aturan untuk tidak menggunakan kantong plastik, dan kantong plastik dihargai tersendiri. Kalau di minimarket biasanya dihargai Rp 200,- , tapi seringkali menjadi gratis lagi karena nanti harga plastik di diskon menjadi harganya nol lagi di bon pembeliannya, karena angka nominal uang kita yang membuat susah bagi penjual untuk menyediakan uang kembalian, dan sulitnya mencari uang pecahan kecil. Terkadang beberapa warung/minimarket memberi opsi dengan kembalian permen
Indonesia dengan jumlah penduduk yang sekitar 300 juta dan kebiasaan penggunaan plastik sudah menjadi hal yang umum maka wajar jika menurut data yang pernah saya baca Indonesia merupakan salah satu penyumbang sampah plastik terbesar di dunia, dan setelah China, Indonesia adalah nomor dua untuk penyumbang sampah-sampah plastik di lautan.
Melihat dari tipikal jenis sampah plastik, plastik akan sulit terurai di dalam tanah, karena plastik bukanlah senyawa yang diproses dari spesies biologis. plastik merupakan senyawa xenobiotik. Perlu waktu puluhan bahkan hingga ratusan tahun untuk plastik bisa terurai, tergantung dari jenis plastik tersebut. itupun terurai menjadi mikroplastik, tapi keberadaan mikroplastik yang berada di laut tentu sangat membahayakan biota lautan. Betul memang, sekarang sudah mulai ada “plastik” yang mudah di terurai, tetapi jumlahnya masih sangat sedikit, dan lebih mahal. Sehingga penggunaan plastik seringkali menjadi dilema.
Kita bisa memulai mengurangi penggunaan plastik ini dari hal-hal sederhana, seperti belanja ke pasar kita bisa membawa tas belanja sendiri, membeli makanan ringan atau minuman selagi masih bisa tidak menggunakan kantong plastik, tolak saja bonus kantong plastiknya. toh kita menggunakannya hanya untuk beberapa menit saja untuk kemudian di buang. Mungkin hal-hal seperti ini adalah kontribusi yang sangat kecil, tetapi kalau di lakukan oleh orang banyak, seharusnya menjadi langkah berarti untuk menyelamatkan lingkungan hidup kita berpijak.
