Usianya mungkin sekitar 70-an tahun, meski sedikit bungkuk tapi sisa-sisa kekokohan badannya masih terlihat. keriput kulit mukanya terlihat nyata menandakan betapa pengalaman hidup telah banyak beliau lalui. sebagian rambut putih yang tersisa menyembul diantara topi hitam menutup kepalanya. Kedua kakinya masih cukup kuat untuk bertumpu badannya, berjalan lambat menuju antrian masuk ruang tunggu dalam kedatangan kereta. Setelah sebelumnya petugas stasiun membantu mencetak boarding pass di counter yang tersedia.

Satu tangannya memegang tas tenteng besar sementara tangan kirinya mengenggam erat tangan istrinya, sekilas melihat fisik sang ibu, usianya mungkin tidak terpaut jauh dengan Suaminya. Untuk jalan sedikit berat menopang tubuhnya yang sebenarnya tidak terlalu gemuk. tapi memang faktor usia tidak bisa dipungkiri, seiring melemahnya kekuatan anggota badan, dimana kekuatan yang dulu sekarang menjadi keterbatasan. Sampai akhirnya mereka mendapatkan kursi tunggu  tidak jauh dari saya duduk.

Terngiang dari obrolan mereka dengan orang di sebelahnya bahwa mereka habis menengok anak dan cucunya yang telah lama tidak berjumpa. Kerinduan yang mendalam menjadikan  kakek dan nenek ini memberanikan diri ke Jakarta berdua dengan naik kereta. dulu semasa muda sang kakek juga biasa naik kereta kala bekerja sehingga dia sudah terbiasa. hanya sekarang sudah berbeda cara mendapatkan tiketnya atau cara naik keretanya, demikian sambung kakek. tiketpun yang belikan anaknya, yang katanya dibeli lewat lewat internet. yang kakek tidak tahu benda macam apa itu.

Anaknya tidak bisa mengantar ke stasiun karena telah berangkat saat subuh untuk bekerja, sehingga mereka diantar taksi online untuk ke stasiun. kerinduan yang masih ada tetapi mereka terbatas hanya bisa bertemu cucunya dua hari dan mereka harus pulang ke kampung lagi. Anak dan menantunya bekerja sementara cucu-cucunya sudah mulai sekolah. 

Kakek itu melanjutkan cerita, katanya begitulah kehidupan, dia dulu membesarkan anaknya, menyekolahkan bahkan mendampingi sehari-hari saat anak tumbuh dewasa, tidak bosan-bosannya dia mengantar anak sekolah sehari-hari demi untuk menjadikan anaknya berarti di kemudian hari, sampai kemudian si anak bisa di terima sekolah di perguruan tinggi  di kota lain. Anaknya bisa lulus sekolah menjadi sarjana. Ada raut kebanggaan,  kala mereka menceritakan momen anaknya menjadi sarjana.

Si anak yang telah dibesarkan kemudian di terima bekerja di kota , pada awal bekerja si anak masih sering  pulang bertemu dengan mereka tetapi lambat laun kesibukan anak sedikit banyak melalaikan rutinitas mudiknya. justru ketika sudah menikah hampir tidak pernah pulang. dan singkatnya kerinduan sepasang kakek nenek inilah yang mengantarkan mereka ke Jakarta.

Begitulah, ketika anak sudah bekerja apalagi sudah menikah, mereka sudah memiliki kehidupan sendiri, ditambah kemudian tinggal di kota besar dengan segala problematika kehidupannya, pekerjaan, kebutuhan ekonomi dan sebagainya. Bangun tidur sampai dengan mau tidurnya dihabiskan dengan pekerjaannya. Kehidupan di kota yang super sibuk seringkali melalaikan segalanya. 

Kalau dulu saat menikah, berduanya mereka penuh semangat menggapai cita demi turunannya kelak. dan mereka berharap saat menjadi tua, mereka bisa hidup dan sehari-hari bercanda dengan di kelilingi anak cucunya, tetapi dalam kenyataannya, ada perbedaan dari yang diharapkan. Begitulah, terkadang pusaran nasib tidak mesti seperti dalam angannya. Si anak dan keluarga telah mempunyai kehidupan sendiri sementara , sepasang kakek nenek ini, mereka akan kembali mengisi hari-hari tua mereka dengan berdua.

Sepasang Lansia di Stasiun Kereta

Usianya mungkin sekitar 70-an tahun, meski sedikit bungkuk tapi sisa-sisa kekokohan badannya masih terlihat. keriput kulit mukanya terlihat nyata menandakan betapa pengalaman hidup telah banyak beliau lalui. sebagian rambut putih yang tersisa menyembul diantara topi hitam menutup kepalanya. Kedua kakinya masih cukup kuat untuk bertumpu badannya, berjalan lambat menuju antrian masuk ruang tunggu dalam kedatangan kereta. Setelah sebelumnya petugas stasiun membantu mencetak boarding pass di counter yang tersedia.

Satu tangannya memegang tas tenteng besar sementara tangan kirinya mengenggam erat tangan istrinya, sekilas melihat fisik sang ibu, usianya mungkin tidak terpaut jauh dengan Suaminya. Untuk jalan sedikit berat menopang tubuhnya yang sebenarnya tidak terlalu gemuk. tapi memang faktor usia tidak bisa dipungkiri, seiring melemahnya kekuatan anggota badan, dimana kekuatan yang dulu sekarang menjadi keterbatasan. Sampai akhirnya mereka mendapatkan kursi tunggu  tidak jauh dari saya duduk.

Terngiang dari obrolan mereka dengan orang di sebelahnya bahwa mereka habis menengok anak dan cucunya yang telah lama tidak berjumpa. Kerinduan yang mendalam menjadikan  kakek dan nenek ini memberanikan diri ke Jakarta berdua dengan naik kereta. dulu semasa muda sang kakek juga biasa naik kereta kala bekerja sehingga dia sudah terbiasa. hanya sekarang sudah berbeda cara mendapatkan tiketnya atau cara naik keretanya, demikian sambung kakek. tiketpun yang belikan anaknya, yang katanya dibeli lewat lewat internet. yang kakek tidak tahu benda macam apa itu.

Anaknya tidak bisa mengantar ke stasiun karena telah berangkat saat subuh untuk bekerja, sehingga mereka diantar taksi online untuk ke stasiun. kerinduan yang masih ada tetapi mereka terbatas hanya bisa bertemu cucunya dua hari dan mereka harus pulang ke kampung lagi. Anak dan menantunya bekerja sementara cucu-cucunya sudah mulai sekolah. 

Kakek itu melanjutkan cerita, katanya begitulah kehidupan, dia dulu membesarkan anaknya, menyekolahkan bahkan mendampingi sehari-hari saat anak tumbuh dewasa, tidak bosan-bosannya dia mengantar anak sekolah sehari-hari demi untuk menjadikan anaknya berarti di kemudian hari, sampai kemudian si anak bisa di terima sekolah di perguruan tinggi  di kota lain. Anaknya bisa lulus sekolah menjadi sarjana. Ada raut kebanggaan,  kala mereka menceritakan momen anaknya menjadi sarjana.

Si anak yang telah dibesarkan kemudian di terima bekerja di kota , pada awal bekerja si anak masih sering  pulang bertemu dengan mereka tetapi lambat laun kesibukan anak sedikit banyak melalaikan rutinitas mudiknya. justru ketika sudah menikah hampir tidak pernah pulang. dan singkatnya kerinduan sepasang kakek nenek inilah yang mengantarkan mereka ke Jakarta.

Begitulah, ketika anak sudah bekerja apalagi sudah menikah, mereka sudah memiliki kehidupan sendiri, ditambah kemudian tinggal di kota besar dengan segala problematika kehidupannya, pekerjaan, kebutuhan ekonomi dan sebagainya. Bangun tidur sampai dengan mau tidurnya dihabiskan dengan pekerjaannya. Kehidupan di kota yang super sibuk seringkali melalaikan segalanya. 

Kalau dulu saat menikah, berduanya mereka penuh semangat menggapai cita demi turunannya kelak. dan mereka berharap saat menjadi tua, mereka bisa hidup dan sehari-hari bercanda dengan di kelilingi anak cucunya, tetapi dalam kenyataannya, ada perbedaan dari yang diharapkan. Begitulah, terkadang pusaran nasib tidak mesti seperti dalam angannya. Si anak dan keluarga telah mempunyai kehidupan sendiri sementara , sepasang kakek nenek ini, mereka akan kembali mengisi hari-hari tua mereka dengan berdua.

Related Posts