hardie |
Sudah beberapa bulan hujan belum turun juga. kini sudah memasuki bulan september akhir, bulan yang saat saya kecil dulu selalu sebagai pertanda bahwa rintik air mulai turun. Tetapi beberapa musim terakhir memang cuaca tidak bisa diprediksi, bulan-bulan yang seharusnya turun hujan malah kemarau, sebaliknya waktu yang harusnya kering justru sesekali ada rintijk air. Langit jarang sekali mendung, selalu biru, sesekali ada awan putih melintas, sporadis, jadi tidak pernah mengelompok menjadi mendung yang diharapkan.
Yang jadi permasalahan adalah debu, debu jalanan terlihat sekali, apalagi kalau kendaraan lewat maka dengan kasat mata, asap knalpot berbaur dengan debu yang ikut dalam kepulan. kendaraanpun cepat kotor karena debu, dan ini terjadi bukan hanya untuk kendaraan yang dipakai. Mobil dan motor yang hanya parkir di halaman beberapa malam saja sudah terlihat sekali debunya. jadi yang tadinya mengkilat, terlihat kusam. maka mau nggak mau saya harus sering-sering membersihkan kendaraan, meski hanya di kebut-kebut dengan kemoceng.
Pohon-pohon juga seperti merasakan hal yang sama, pohon jati dan pohon mahoni yang gak jauh dari rumah, daun-daunnya sudah mulai meranggas, tersisa batang dan cabang-cabangnya saja yang menjulur, jadinya seperti akar yang bertumbuh ke atas. pohon-pohon yang lebih kecil, seperti pohon pisang, pelepah dan daun-daunnya sudah mulai mengering, serta kulit – kulit batang luarnya juga sudah mulai kecoklatan pertanda bahwa memang mereka sedang kekurangan air.
Kemarau sekarang ini sepertinya agak lama, tanda-tanda hujan belum terlihat juga, siang hari panas matahari begitu menyengat, jika naik motor siang hari sebentar saja, hawa panasnya terasa sekali di badan, bahkan sampai kita masuk ke rumah panasnya masih terbawa, apalagi kalau kita tidak pakai sarung tangan, campuran asap kendaraan di jalan raya bersatu dengan debu, menempel erat ke punggung tangan seperti di setrika panasnya matahari. kotornya mungkin tidak terlihat, tapi yang jelas warna tangan sedikit berubah, jadi kehitaman. kalau dilakukan berhari-hari, bagian tangan kita yang tidak terlindung jelas akan lebih gelap dari bagian lainnya. jika siang udara panas sekali, berbeda dengan malam hari, hawanya cenderung dingin, menjelang pagi hari malah anyes (dingin banget)
Ternyata musim kering seperti sekarang ini juga membuat kita gampang sakit, beberapa hari yang lalu saya pun terkena radang, mungkin karena hawa yang panas jadi siang inginnya minum yang segar, minuman yang dingin, kebanyakan es membuat tenggorokan mengalami masalah. tetapi memang di sekitar saya juga banyak yang sebelumnya mengalami sakit, baik itu pilek, batuk-batuk ataupun flu. Beruntung sakit tenggorokan dan mulut pahit saya berangsur sembuh, setelah dibantu dengan ramuan pahit dari mbak jamu yang suka keliling perumahan.
Selain sakit seperti diatas, ternyata banyak juga yang mengalami masalah pada penglihatan, banyak mereka yang mengalami sakit mata, atau mungkin ini ada hubungannnya dengan kemarau juga, yang membuat mata kalau siang jadi perih atau karena iritasi debu biasa. Saat mengantar orang tua untuk kontrol kesehatan ke poli mata di salah satu rumah sakit. ternyata pasien yang bermasalah dengan mata sangat banyak sekali , sehingga antrian poliklinik untuk penyakit lain sudah selesai, tetapi pasien untuk poli mata masih banyak mengular menunggu panggilan. Selain mata penyakit lain yang banyak adalah penyakit kulit, mungkin tidak parah tetapi hanya gatal-gatal biasa.
Tetapi di cuaca panas ini ada saja yang baik, ia adalah jemuran.., pakaian yang habis di cuci cepat kering, pagi mencuci sebelum dhuhur sudah kering, sinar matahari di tambah angin panas memang cocok sekali buat mengeringkan baju, saking keringnya saya lihat baju-baju yang dijemur tetangga pada jatuh tertiup angin, khususnya pakaian dalam yang memang cukup ringan, jadi kalau tidak di jepit ada angin sedikit saja pasti terbang.
Kebetulan untuk kebutuhan air kami berlangganan air ledeng, jadi untuk mandi dan cuci tidak mengalami kesulitan. tetapi ketika kami berkunjung ke rumah saudara di desa, ternyata air menjadi barang yang sangat berarti. sumur-sumur sudah kering, rata-rata di desa menggunakan sumur gali, bahkan ada yang sampai dalam galiannya sekitar 20 meteran. meski demikian tetap saja sekarang tidak ada air, biasanya setengah sumur keatas terisi air, tetapi mungkin sekarang tinggal 1 meter saja airnya. jadi kalau ditimba, airnya terasa bau lumpur.
Yang menggunakan mesin air juga tidak berbeda, meski mesin menyala, air tidak naik dan keluar dari kran. Tetapi ada waktu-waktu tertentu yang kadang air mau naik ke atas, yaitu waktu dinihari sampai pagi, meski yang keluar juga tidak terlalu besar, tetapi setidaknya ada persediaan untuk minimal cuci muka. jadi yang mempunyai mesin air biasanya akan menyalakan mesinnya di waktu-waktu tersebut. soalnya kalau siang, air sudah tidak mau keluar lagi. Minimal ada air untuk bersih-bersih, tetapi kalau untuk urusan minum terpaksa harus beli galon kemasan atau air isi ulang.
Kekeringan yang terjadi juga menyebabkan air di sungai menjadi mengecil. di belakang rumah semasa saya kecil, terdapat sungai besar, lebarnya mungkin sekitar 20 meteran, untuk hari-hari normal saja, kita tidak bisa menyebaranginya tanpa perahu. tetapi sejak kemarau ini, kita bisa berjalan kaki melewati sungai ini untuk ke daratan seberang, air yang tadinya besar sekarang sudah mengecil hanya setinggi lutut.
Kekeringan ini merata hampir seluruh Indonesia, negara-negara lain juga mengalami. hawa panas telah mengaklibatkan korban jiwa yang tidak sedikit di beberapa negara. Dari berita yang saya dengar, bulan juli-agustus lalu, merupakan puncak hawa terpanas bumi sepanjang sejarah. Memang kondisi alam sudah berubah, atau justru ini semua akibat dari perilaku manusia juga. Keserakahan manusia menjadikan mereka tidak bisa menjaga keseimbangan dan kelestarian alam. sehingga salah satunya berakibat kepada perubahan iklim yang sekarang kita alami.
Cuaca yang panas, dan juga kekeringan yang terjadi menyebabkan kita sering mendengar musibah kebakaran dimana-mana, di Amerika kebakaran hutan juga terjadi yang konon juga karena faktor cuaca yang panas, belum lagi di Hawai yang memakan korban banyak dan juga tempat-tempat lain. Rumput – rumput dan daun yang kering jelas sebagai media yang ideal untuk api cepat menjalar. apalagi kalau ada faktor pemicunya, puntung rokok misalnya atau kecerobohan manusai lainnya, seperti konon kebakaran yang terjadi di kawasan wisata Bromo, terbakar karena ketelodoran pengunjungnya.
Entah sampai kapan kekeringan ini berakhir, kemarin lusa sebenarnya sudah ada rintik di pagi hari, tapi tidak menjadi gerimis apalagi hujan, hanya menjadikan debu basah berbau menusuk hidung. atau rintik yang datang hanyalah salam perkenalan saja bahwa bisa saja hujan akan segera datang, semoga. karena tidak seperti biasanya dimana yang biru dirindukan, kini justru banyak orang mengharapkan langit yang kelabu.
