Akhir-akhir ini sebuah kanal berita online yang kadang saya baca di pagi hari, seringkali memuat ulang kisah dan kasus lama yang dulunya viral, umumnya berita kriminal yang cukup menggegerkan atau menjadi pusat pemberitaan utama, dan salah satu yang saya sempat baca saat itu adalah tentang seorang kematian wanita muda di makam ayahnya.

Dan ternyata ada cerita menyedihkan dibalik apa yang dialami wanita muda tersebut. ia menjadi korban dari ketidakpedulian orang-orang sekitar bahkan orang orang terdekatnya di saat  justru ia sedang membutuhkan bantuan. Ia adalah seorang mahasiswi, yang saat itu juga menjalin hubungan dengan seseorang. Seorang laki-laki hadir dan menjadi harapan baginya, yang mungkin akan menggenggam tangannya dalam janji-janji manis untuk selalu ada. Apalagi pemuda itu sudah mulai meniti karir di institusi yang cukup terhormat. Bukan hanya menjadi  tumpuan, tetapi harapan wanita tersebut kepada laki-laki sudah sangat besar, ia juga menemukan sosok yang diharapkan dapat mengisi kekosongan yang ditinggalkan sang ayah.

Namun, ironisnya, harapan itu terhempas oleh kenyataan yang pahit.  Sosok laki-laki tersebut tiba-tiba meninggalkannya , di sisi lain sesuatu yang berharga yang selalu dijaga telah diberikan ke laki-laki tersebut, bahkan telah memunculkan benih kehidupan dari hubungan mereka. Tetapi kini, sosok yang dianggap sebagai sandaran itu telah berbalik menjadi sumber luka. Perlakuan yang seharusnya penuh dengan kelembutan, malah menjadi sumber kepedihan yang tak terduga. Ia terluka oleh orang yang dianggap akan menjadi tempat berteduh, merasa terkhianati oleh kehangatan palsu yang pernah dijanjikan.

Sakit itu seperti semakin mengukir luka yang dalam, merambah tiap sudut hatinya yang masih rapuh. Di tengah kerinduan yang tak terobati, ia harus berhadapan dengan kekecewaan yang bertambah dalam. Dalam kesendirian ia tidak bisa berbuat banyak. Keluarga telah menjauhinya sementara sedikit saudara dan orang yang dianggap dekat justru telah mengusirnya.

Satu-satunya orang yang dekat dengannya adalah ayahnya. Kedekatan yang mereka bagikan membentuk ikatan yang sukar ditandingi. Tetapi sosok yang selama ini memberi arahan, dan juga pelajaran berharga tentang kehidupan telah berpulang. Padahal kasih sayangnya dulu menjadi sumber kekuatan bagi si anak untuk melangkah di dunia yang penuh dengan ujian dan cobaan.

Bagai ditusuk oleh kenangan sang ayah yang semakin terasa nyata, dia merasa sendirian dalam pertarungan melawan derita yang menghantui. Di sudut hati yang sunyi dan hampa, tiba-tiba terpatri akan kerinduan yang mendalam. Si anak terdampar dalam kesendirian, dihimpit oleh kekosongan yang tak terperi. Di dunia yang begitu luas, ia merasa seperti seorang pengembara yang terasing, tiada lagi pelabuhan yang nyaman untuk berlabuh.

Di malam yang sunyi, ia merindukan sentuhan lembut sang ayah, suara hangat yang memberikan keamanan, dan nasihat bijak yang tak pernah lekang oleh waktu. Namun, kini hanya tinggal kenangan manis yang terpatri dalam ingatannya. Tiada lagi tempat untuknya mengadu, tiada lagi yang dapat memahami isi hatinya yang terluka.

Di hadapan mata, hanya ada kesunyian yang menuntunnya melangkah dalam kehampaan yang menyiksa. dan entah apa yang dibicarakan kepada “ayahnya” saat itu, dan entah jeritan atau tangisan apa yang di lampiaskan, atau bisa jadi hanya isakan dan rintihan lirih dalam kesepian,  sampai pada akhirnya ia ditemukan  dalam tidur panjangnya. Terlihat sebotol cairan racun telah menemani akhir tragis di atas pusara ayahnya.

Seharusnya banyak cerita yang bisa kita ambil dari kejadian itu, terkait dengan pembelajaran, kepedulian, atau empati untuk  mengerti dan memahami akan apa yang  orang lain rasa. ibarat nasi sudah menjadi bubur. Nestapa yang dia rasa sangat mengguncang, sementara ia belum menemukan kekuatan dalam dirinya untuk tetap berdiri, melangkah, atau setidaknya menemukan sandaran untuk jiwanya yang sedang rapuh.

Akhir Tragis Nestapa Sang Dara

Akhir-akhir ini sebuah kanal berita online yang kadang saya baca di pagi hari, seringkali memuat ulang kisah dan kasus lama yang dulunya viral, umumnya berita kriminal yang cukup menggegerkan atau menjadi pusat pemberitaan utama, dan salah satu yang saya sempat baca saat itu adalah tentang seorang kematian wanita muda di makam ayahnya.

Dan ternyata ada cerita menyedihkan dibalik apa yang dialami wanita muda tersebut. ia menjadi korban dari ketidakpedulian orang-orang sekitar bahkan orang orang terdekatnya di saat  justru ia sedang membutuhkan bantuan. Ia adalah seorang mahasiswi, yang saat itu juga menjalin hubungan dengan seseorang. Seorang laki-laki hadir dan menjadi harapan baginya, yang mungkin akan menggenggam tangannya dalam janji-janji manis untuk selalu ada. Apalagi pemuda itu sudah mulai meniti karir di institusi yang cukup terhormat. Bukan hanya menjadi  tumpuan, tetapi harapan wanita tersebut kepada laki-laki sudah sangat besar, ia juga menemukan sosok yang diharapkan dapat mengisi kekosongan yang ditinggalkan sang ayah.

Namun, ironisnya, harapan itu terhempas oleh kenyataan yang pahit.  Sosok laki-laki tersebut tiba-tiba meninggalkannya , di sisi lain sesuatu yang berharga yang selalu dijaga telah diberikan ke laki-laki tersebut, bahkan telah memunculkan benih kehidupan dari hubungan mereka. Tetapi kini, sosok yang dianggap sebagai sandaran itu telah berbalik menjadi sumber luka. Perlakuan yang seharusnya penuh dengan kelembutan, malah menjadi sumber kepedihan yang tak terduga. Ia terluka oleh orang yang dianggap akan menjadi tempat berteduh, merasa terkhianati oleh kehangatan palsu yang pernah dijanjikan.

Sakit itu seperti semakin mengukir luka yang dalam, merambah tiap sudut hatinya yang masih rapuh. Di tengah kerinduan yang tak terobati, ia harus berhadapan dengan kekecewaan yang bertambah dalam. Dalam kesendirian ia tidak bisa berbuat banyak. Keluarga telah menjauhinya sementara sedikit saudara dan orang yang dianggap dekat justru telah mengusirnya.

Satu-satunya orang yang dekat dengannya adalah ayahnya. Kedekatan yang mereka bagikan membentuk ikatan yang sukar ditandingi. Tetapi sosok yang selama ini memberi arahan, dan juga pelajaran berharga tentang kehidupan telah berpulang. Padahal kasih sayangnya dulu menjadi sumber kekuatan bagi si anak untuk melangkah di dunia yang penuh dengan ujian dan cobaan.

Bagai ditusuk oleh kenangan sang ayah yang semakin terasa nyata, dia merasa sendirian dalam pertarungan melawan derita yang menghantui. Di sudut hati yang sunyi dan hampa, tiba-tiba terpatri akan kerinduan yang mendalam. Si anak terdampar dalam kesendirian, dihimpit oleh kekosongan yang tak terperi. Di dunia yang begitu luas, ia merasa seperti seorang pengembara yang terasing, tiada lagi pelabuhan yang nyaman untuk berlabuh.

Di malam yang sunyi, ia merindukan sentuhan lembut sang ayah, suara hangat yang memberikan keamanan, dan nasihat bijak yang tak pernah lekang oleh waktu. Namun, kini hanya tinggal kenangan manis yang terpatri dalam ingatannya. Tiada lagi tempat untuknya mengadu, tiada lagi yang dapat memahami isi hatinya yang terluka.

Di hadapan mata, hanya ada kesunyian yang menuntunnya melangkah dalam kehampaan yang menyiksa. dan entah apa yang dibicarakan kepada “ayahnya” saat itu, dan entah jeritan atau tangisan apa yang di lampiaskan, atau bisa jadi hanya isakan dan rintihan lirih dalam kesepian,  sampai pada akhirnya ia ditemukan  dalam tidur panjangnya. Terlihat sebotol cairan racun telah menemani akhir tragis di atas pusara ayahnya.

Seharusnya banyak cerita yang bisa kita ambil dari kejadian itu, terkait dengan pembelajaran, kepedulian, atau empati untuk  mengerti dan memahami akan apa yang  orang lain rasa. ibarat nasi sudah menjadi bubur. Nestapa yang dia rasa sangat mengguncang, sementara ia belum menemukan kekuatan dalam dirinya untuk tetap berdiri, melangkah, atau setidaknya menemukan sandaran untuk jiwanya yang sedang rapuh.

Related Posts