hardie |
Saat pandemi covid melanda dari 2019 sampai sekitar 2021, kemudian berbuntut banyaknya para pekerja dirumahkan untuk sementara waktu, atau diliburkan, bahkan ada yang liburnya sampai keterusan alias terpaksa terkena pemutusan Hubungan Kerja (PHK). Kondisi ekonomi saat itu mengalami penurunan, membuat banyak perusahaan, khususnya perusahaan kecil tidak bisa menutup operasionalnya karena produksinya yang terhenti.
Selain itu, untuk menyiasati bagaimana para pekerja agar tetap aktif, maka kemudian timbul tren bekerja dari rumah. atau yang lebih familiar dikenal dengan WFH, Work From Home. WHF memungkinkan para pekerja tetap produktif meski saat itu tidak berada di tempat bekerja sebagaimana biasanya. Bekerja dari rumah menjadi pilihan utama saat itu, baik itu oleh perusahaan swasta maupun instansi pemerintah. Tetapi tentu saja tidak semua pekerjaan bisa dilakukan secara WFH. Pekerjaan terkait Teknologi Informasi seperti web developer, pekerjaan kreatif seperti desainer, keuangan dan adminitrasi, atau bidang konsultasi adalah contoh pekerjaan yang bisa dilakukan dari rumah.
Tetapi banyak juga pekerjaan yang memang tidak bisa dilakukan secara WFH karena memang membutuhkan kehadiran fisik di kantor atau tempat kerja. Pekerjaan produksi misalnya, karena harus menggunakan peralatan atau mesin khusus, maka jelas proses produksi tidak bisa dipindah ke rumah. Termasuk juga layanan kesehatan, dokter atau perawat membutuhkan kehadiran fisik untuk merawat pasien, juga bidang-bidang lain seperti konstruksi, pelayanan masyarakat ataupun administrasi publik.
WFH memang sudah tidak diberlakukan, nyatanya banyak sekali kegiatan yang masih menerapkan atau terbiasa dengan pola saat masih WFH. Seperti seminar atau rapat yang umumnya sekarang dilakukan secara hybrid. sehingga mereka yang tidak berkesempatan datang masih bisa mengikuti secara langsung. atau kalau terlambat datangpun masih bisa mengikutinya, misal dengan membuka aplikasi zoom dalam perjalanan. bahkan saat ini, izin WFH meski hanya satu dua hari menjadi jamak bagi para pekerja karena mungkin ada kepentingan tertentu.
Meskipun istilah WFH itu baru familier muncul belakangan, tapi kegiatan tersebut ternyata sudah saya lakukan beberapa tahun sebelum adanya covid. Pekerjaan saya di bidang Teknologi Informasi khususnya di web management saat itu memungkinkan saya bekerja dari rumah, seminggu mungkin hanya satu atau dua hari di kantor, atau jika berurusan dengan klien maka biasanya hanya dua minggu sekali saya menemui klien. proses komunikasi untuk progress pekerjaan biasanya cuma via telpon atau revisi hal-hal yang memang sudah bisa dilihat bersama secara online. Saat itu aplikasi zoom ataupun Google Meet belum ada atau belum sepopuler sekarang.
Berbicara mengenai WFH, jika tidak terbiasa, seringkali suasana yang nyaman membuat sebagian orang tergelincir dalam kesan bahwa WFH sama seperti hari libur. Keterbatasan ruang dan waktu yang tampaknya lebih bebas, seringkali membuat WFH menjadi pengalaman yang bisa efektif namun juga bisa menjadi jebakan kontraproduktif. Di dalam lingkungan yang lebih santai, terkadang sulit bagi beberapa orang untuk memisahkan antara waktu kerja dan waktu santai.
Bekerja dari rumah membawa sejumlah tantangan yang menarik. Mulai dari kesulitan membedakan antara ruang kerja dan ruang pribadi di rumah, hingga kesulitan dalam menjaga fokus dan produktivitas. Berbagai gangguan dari lingkungan sekitar, keluarga, atau bahkan godaan-godaan rumah seperti TV, Netflix atau kamar yang nyaman, seringkali menjadi penghambat. Sayapun demikian, meski sekarang kadang masih terganggu dengan hal-hal itu, tetapi kadarnya tidak separah pada saat awal dulu.
Cerita menarik seputar WFH-pun akhirnya bermunculan di berbagai video singkat media sosial. Ada video seorang pimpinan pucuk perusahaan yang tiba-tiba anaknya yang masih balita nyelonong masuk dan bergayut di lengan bapaknya dan mengganggu jalannya rapat online, seorang ibu yang sedang zoom tiba-tiba backdopnya jatuh dan si ibu kaget, berdiri tapi ternyata tersorot tidak pakai bawahan, suami istri tertangkap bermesraan saat lupa mematikan webcam, dan cerita lucu-lucu yang lain. Beruntung kemudian hari aplikasi conference menyediakan fasilitas background virtual
Namun, di tengah semua kesulitan maupun cerita lucu tersebut, ada sejumlah cara yang bisa membantu meningkatkan produktivitas saat WFH. Salah satunya adalah menciptakan batasan antara ruang kerja dan ruang pribadi. Menciptakan area kerja yang terpisah di rumah, serta menetapkan jadwal kerja yang konsisten, membantu mempertahankan fokus dan kedisiplinan.
Terkait pakaian, kenakan pakaian kerja yang nyaman, meskipun lebih santai dari biasanya, membantu menempatkan pikiran dalam mode kerja yang serius. kalau untuk teknologi sekarang sudah sangat mendukung untuk menjaga komunikasi dengan rekan kerja, memperbarui progres, dan tetap terhubung dengan tim.
Saat bekerja dari rumah, mengatur waktu istirahat yang terjadwal juga penting untuk menjaga keseimbangan antara produktivitas dan kesejahteraan mental. Mengambil waktu untuk beristirahat dan menghilangkan gangguan-gangguan di sekitar lingkungan kerja, seperti mengalihkan perhatian dari media sosial atau perangkat yang mengganggu, juga akan membantu meningkatkan fokus saat bekerja.
Tentu, bekerja dari rumah memiliki dinamika yang unik dan penuh tantangan. Namun, dengan kesadaran akan tantangan-tantangan tersebut, disiplin dalam menjaga batasan waktu dan ruang, serta kemauan untuk beradaptasi, WFH dapat menjadi pengalaman yang efektif dan memuaskan. Dengan sedikit kesabaran dan adaptasi, WFH dapat menjadi waktu yang produktif dan memuaskan. Apalagi bagi generasi Z sekarang, tren WFH sudah mulai bergeser ke WFE, Work From Everywhere. Maka jangan heran ketika mereka nongkrong di cafe dengan laptopnya, atau traveling tetapi masih menyempatkan dengan aktivitas kerjanya. Perkembangan zaman telah mengubah banyak hal.
