Selain bus, dulu saat masih fulltime bekerja di ibu kota, kereta adalah moda transportasi yang biasa saya gunakan untuk pergi dan pulang. Dalam sebulan setidaknya dua kali saya mudik bertemu keluarga dan anak-anak. Jumat sore pulang kampung, minggu sore balik lagi ke Jakarta. 

Dan ternyata banyak orang yang menjalani ritme seperti saya. buktinya tiap kali jumat sore tiket selalu habis untuk ke arah Jawa tengah dan timur, demikian pula sebaliknya untuk minggu sore ke arah Jakarta. Umumnya saya mengincar kereta kelas ekonomi atau bisnis yang memang lebih murah, sesekali kelas eksekutif manakala tiket kedua kelas di bawahnya habis.

Dari berbagai gerbong yang saya naiki, ada banyak pengalaman menarik yang saya dapati. Dalam setiap perjalanan kereta, saya temukan beragam cerita yang terpapar di gerbong-gerbong yang berbeda. Setiap gerbong memiliki keunikannya sendiri, seperti cerminan dari ragam kehidupan yang ada di sekitar kita.

Di kelas ekonomi, menurut saya ini adalah kelas kereta yang paling tidak nyaman untuk istirahat, dengan sandaran kursi yang tegak, tempat duduk diatur berhadap-hadapan, satu kursi cukup untuk tiga penumpang sementara sisi yang lain satu kursi untuk dua penumpang. Dengan diatur berhadapan maka hanya menyisakan celah sempit manakala kursi terisi penuh. Lutut yang saling berciuman dengan penumpang di depannya adalah hal biasa.  

Tetapi di gerbong kelas ekonomi, suasana hangat dan akrab terasa begitu kuat. Setiap kursi seolah menjadi saksi dari percakapan yang mengalir begitu alami. Penumpang di sini tidak segan untuk berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari. Tanpa sungkan, mereka dengan penuh kehangatan mengisahkan kisah-kisah tentang anak-anak mereka, keluarga mereka, bahkan tetangga sebelah rumahnya atau perjuangan dalam mencari nafkah. Suara tawa dan keceriaan melintas di antara percakapan, dan saling mengeluarkan serta berbagi makanan adalah hal yang lumrah kita temui.

Di kelas ekonomi, percakapan tentang usaha dan bertahan hidup paling sering mengisi ruang di antara penumpang. Mereka berbagi kisah tentang perjuangan dalam mencari nafkah, usaha kecil yang menjadi penopang keluarga, atau strategi sederhana untuk bertahan di tengah keterbatasan.seperti gigihnya menjalankan usaha rumahan mereka atau sekedar bertahan dengan lapaknya di trotoar. Melalui percakapan ini, tergambarlah keuletan dan ketangguhan mereka dalam meniti perjalanan hidup yang tak jarang dipenuhi dengan tantangan.

Kelas bisnis membawa suasana yang berbeda.  Ada diskusi-diskusi maupun obrolan serius dengan penumpang sebelahnya, biasanya pembicaraan sedikit mendalam sebelum ganti topik yang lain, obrolan lebih fokus karena kursi tidak berhadapan, sehingga teman ngobrol hanya penumpang yang disebelahnya. 

Namun, di kelas eksekutif, suasana terasa lebih berbeda. Hening menyelimuti ruangan, hanya terpotong oleh suara halus dari tuts gadget yang diterpa jari-jemari. umumnya obrolan singkat hanya terjadi di awal, sebelum akhirnya penumpang  terpesona oleh dunianya masing-masing, terbenam dalam layar gadget yang membawa mereka ke dimensi yang berbeda. Jarang ada percakapan, lebih sering ada alunan musik atau tawa kecil dari video yang ditonton secara pribadi. Meskipun fisiknya berada dalam satu ruang, tapi jiwa mereka seolah terbang ke tempat yang berbeda.

Tidak ada yang salah dalam perbedaan ini. Malah, itu mencerminkan keberagaman kehidupan yang kita jalani. Ada kehangatan dan kebersamaan kelas ekonomi, di mana cerita hidup diutarakan dengan suka cita. Ada keakraban di kelas bisnis. Ada juga kedalaman di kesendirian kelas eksekutif, di mana setiap penumpang membawa kisah pribadi yang hanya mereka yang tahu.

Memang akan ada banyak cerita di setiap gerbong kereta. Di sanalah refleksi dari cerita hidup kita sendiri tercermin. Kadang, kita seperti kelas ekonomi, dengan kehangatan dan keceriaan yang mudah dihaturkan kepada orang di sekitar. Fokus dan peduli kepada orang lain seperti di kelas bisnis. Dan ada saat-saat kita seperti kelas eksekutif, tenggelam dalam dunia pribadi yang begitu dalam.

Di antara perbedaan ini, ada keindahan tersendiri. Bersyukur saya pernah mengalami momen bersama mereka , ketiganya memiliki tempat di dalam perjalanan saya.

Ketika gerbong-gerbong itu meluncur melintasi rel, tidak hanya satu cerita yang terbawa. Ada banyak cerita di setiap jendela, Setiap gerbong membawa keunikan, mengalir dalam keberagaman yang membingkai perjalanan kita, menambah kekayaan warna dalam album perjalanan kehidupan.
 
*Photo : Pribadi

Ada Banyak Cerita di Gerbong Kereta


Selain bus, dulu saat masih fulltime bekerja di ibu kota, kereta adalah moda transportasi yang biasa saya gunakan untuk pergi dan pulang. Dalam sebulan setidaknya dua kali saya mudik bertemu keluarga dan anak-anak. Jumat sore pulang kampung, minggu sore balik lagi ke Jakarta. 

Dan ternyata banyak orang yang menjalani ritme seperti saya. buktinya tiap kali jumat sore tiket selalu habis untuk ke arah Jawa tengah dan timur, demikian pula sebaliknya untuk minggu sore ke arah Jakarta. Umumnya saya mengincar kereta kelas ekonomi atau bisnis yang memang lebih murah, sesekali kelas eksekutif manakala tiket kedua kelas di bawahnya habis.

Dari berbagai gerbong yang saya naiki, ada banyak pengalaman menarik yang saya dapati. Dalam setiap perjalanan kereta, saya temukan beragam cerita yang terpapar di gerbong-gerbong yang berbeda. Setiap gerbong memiliki keunikannya sendiri, seperti cerminan dari ragam kehidupan yang ada di sekitar kita.

Di kelas ekonomi, menurut saya ini adalah kelas kereta yang paling tidak nyaman untuk istirahat, dengan sandaran kursi yang tegak, tempat duduk diatur berhadap-hadapan, satu kursi cukup untuk tiga penumpang sementara sisi yang lain satu kursi untuk dua penumpang. Dengan diatur berhadapan maka hanya menyisakan celah sempit manakala kursi terisi penuh. Lutut yang saling berciuman dengan penumpang di depannya adalah hal biasa.  

Tetapi di gerbong kelas ekonomi, suasana hangat dan akrab terasa begitu kuat. Setiap kursi seolah menjadi saksi dari percakapan yang mengalir begitu alami. Penumpang di sini tidak segan untuk berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari. Tanpa sungkan, mereka dengan penuh kehangatan mengisahkan kisah-kisah tentang anak-anak mereka, keluarga mereka, bahkan tetangga sebelah rumahnya atau perjuangan dalam mencari nafkah. Suara tawa dan keceriaan melintas di antara percakapan, dan saling mengeluarkan serta berbagi makanan adalah hal yang lumrah kita temui.

Di kelas ekonomi, percakapan tentang usaha dan bertahan hidup paling sering mengisi ruang di antara penumpang. Mereka berbagi kisah tentang perjuangan dalam mencari nafkah, usaha kecil yang menjadi penopang keluarga, atau strategi sederhana untuk bertahan di tengah keterbatasan.seperti gigihnya menjalankan usaha rumahan mereka atau sekedar bertahan dengan lapaknya di trotoar. Melalui percakapan ini, tergambarlah keuletan dan ketangguhan mereka dalam meniti perjalanan hidup yang tak jarang dipenuhi dengan tantangan.

Kelas bisnis membawa suasana yang berbeda.  Ada diskusi-diskusi maupun obrolan serius dengan penumpang sebelahnya, biasanya pembicaraan sedikit mendalam sebelum ganti topik yang lain, obrolan lebih fokus karena kursi tidak berhadapan, sehingga teman ngobrol hanya penumpang yang disebelahnya. 

Namun, di kelas eksekutif, suasana terasa lebih berbeda. Hening menyelimuti ruangan, hanya terpotong oleh suara halus dari tuts gadget yang diterpa jari-jemari. umumnya obrolan singkat hanya terjadi di awal, sebelum akhirnya penumpang  terpesona oleh dunianya masing-masing, terbenam dalam layar gadget yang membawa mereka ke dimensi yang berbeda. Jarang ada percakapan, lebih sering ada alunan musik atau tawa kecil dari video yang ditonton secara pribadi. Meskipun fisiknya berada dalam satu ruang, tapi jiwa mereka seolah terbang ke tempat yang berbeda.

Tidak ada yang salah dalam perbedaan ini. Malah, itu mencerminkan keberagaman kehidupan yang kita jalani. Ada kehangatan dan kebersamaan kelas ekonomi, di mana cerita hidup diutarakan dengan suka cita. Ada keakraban di kelas bisnis. Ada juga kedalaman di kesendirian kelas eksekutif, di mana setiap penumpang membawa kisah pribadi yang hanya mereka yang tahu.

Memang akan ada banyak cerita di setiap gerbong kereta. Di sanalah refleksi dari cerita hidup kita sendiri tercermin. Kadang, kita seperti kelas ekonomi, dengan kehangatan dan keceriaan yang mudah dihaturkan kepada orang di sekitar. Fokus dan peduli kepada orang lain seperti di kelas bisnis. Dan ada saat-saat kita seperti kelas eksekutif, tenggelam dalam dunia pribadi yang begitu dalam.

Di antara perbedaan ini, ada keindahan tersendiri. Bersyukur saya pernah mengalami momen bersama mereka , ketiganya memiliki tempat di dalam perjalanan saya.

Ketika gerbong-gerbong itu meluncur melintasi rel, tidak hanya satu cerita yang terbawa. Ada banyak cerita di setiap jendela, Setiap gerbong membawa keunikan, mengalir dalam keberagaman yang membingkai perjalanan kita, menambah kekayaan warna dalam album perjalanan kehidupan.
 
*Photo : Pribadi

Related Posts